Kamis, 14 Mei 2009

Hari yang Sial

Posted by Haf Sari 08.04, under | 2 comments

Pada suatu hari saat saya bekerja di malang saya minta ijin untuk pulang 1 hari. Saya berangkat sekitar pukul 1.00 siang. Saya berencana untuk pulang ke pandaan bersama teman saya. Saya dapat sms dari nya sekitar jam 12.45 katanya langsung ketemuan di pemberhentian bus. Saya langsung buru- buru pergi naik angkot ke tempat yang di tuju. Saat saya tiba di sana saya mencari-cari di mana teman saya berada, namun tidak ada. Sekitar pukul 1.30 saya mendapat pesan darinya bahwa ia akan segera berangkat ke tempat yang di tuju. Selang lima belas menit ia telfon dan memberitahu bahwa ia tidak dapat berangkat sekarang di karenakan teman kelompok tugas mata kuliah lainnya baru datang dan beliau menyuru saya menunggu.
Batin ku berkata "dasar tadi saja membuat aku tergesah-gesah sampai saya tidak sempat mencuci piring ternyata sampai jam segini belum juga datang"

Setelah sekitar satu jam menunggu beliau telfon dan berkata " nunggunya kelamaan yaa kalau buru-buru berangkat saja duluan" saya bertanya padanya " emang masih lama" ia berkata " sudah selesai dan sudah mau pulang" batin ku berkata " kenapa tidak dari tadi saja suru duluan, sekarang kan sudah selesai dan tinggal perjalanan ke sini kok malah suruh duluan. akhirnya aku menjawab " ya aku tunggu saja gak apa-apa". Setelah lama menunggu beliau datang juga dan kami naik bus bersama menuju pandaan.


Karena saat itu hari jum'at maka banyak sekali penumpangnya. Kami akhirnya berdesakan duduk di depan samping pak supir bus. Walaupun dalam bus sudah berdesakan namun masih banyak yang berebut menghadang bus dan penumpang sampai banyak yang berdiri hingga pintu masuk bus. Akhirnya kami sampai di pandaan kurang lebih sekitar pukul 4.00 soreh. Kami menuju rumah teman saya tersebut karena saya mau meminjam pena tinta. Memang dasar sial saat berada di tengah perjalanan tiba-tiba hp ku berbunyi, aku mengambil hp berniat untuk mengangkat telfon tersebut. Saat hp sudah saya pegang dan berniat mengeluarkan dari kantong, HP yang saya pegang tersangkut benang kantong. Karena saya ingin cepat dan menariknya, alangkah terkejutnya aku ternyata HP yang aku pegang jatuh dari genggaman. Mungkin karena terlalu keras jatuhnya sehingga HP saya mati dan menjadi beberapa bagian. Padahal HP saya tersebut cukup sulit untuk di buka walaupun hanya untuk mengganti nomor. Saat berada di sana saya di persilahkan untuk duduk dan di ambilkan minum serta di kasi kue. Saya bersyukur setelah menunggu lama di tempat pemberhentian bus dan perjalanan yang melelahkan dari malang ke pandaan ternyata di beri kue dan minum. Saya merasa kesal kembali saat teman saya mengambil pena tersebut dan mencobanya ternyata pene tersebut tidak dapat di gunakan.

Teman saya berusaha untuk memperbaiki pena tersebut sampai di tiup dan di kasi tinta, namun tak kunjung dapat di pergunakan. Orang tua teman saya menyarankan akan di rendam dengan air hangat karena kemungkinan mata penanya tersumbat dengan tinta yang kering. Teman saya merendam pena tersebut dengan air hangat sambil di tiup-tiup. Saya merasa sangat bersalah, ia baru saja datang dan pastinya sangat lelah masih harus memperbaiki pena tersebut. Saya akhirnya berkata pada teman saya agar ia tidak memaksakan diri, kalau memang penanya tidak dapat di gunakan biarkan saja. Namun beliau masih berusaha memperbaiki hingga orang tuanya berkata biarkan saja di rendam jika kamu tiup terus nanti malah rusak. Sambil menunggu penanya di rendam kami sholat ashar dulu.

Setelah sholat ashar teman saya masih berusaha memperbaiki pena tersebut padahal ia belum ganti baju dan belum mandi seharian. Rasa bersalah ku semakin besar karena hari itu merupakan pertama kali saya kerumahnya. Mungkin ini memang bukan merupakan hari keberuntungan ku dan malah merepotkan teman saja. Dalam hati saya berdo'a " ya allah, aku baru pertama kali menginjakan kaki di rumah ini namun sudah membuat pemilik rumah kesusahan, akankah ini pertanda bahwa aku akan selalu merepotkan mereka?". Saya tidak dapat mencegah teman saya tersebut karena saya tahu ia bukan seseorang yang dapat di paksa walaupun untuk kebaikan dirinya sendiri. Adzan maghrib pun terdengar dan kami berjama'a sholat maghrib. Setelah sholat saya berkata pada teman saya untuk tidak melanjutkan memperbaiki pena tersebut karena saya di rumah memiliki pena tinta. Saya berpamitan untuk pulang dan teman saya mengantar hingga jalan raya...yeng patut ucapkan hanya terima kasih sebanyak-banyaknya karena saya tidak dapat membalas kebaikannya tersebut....

Mungkin lebih tepatnya bukan harinya yang sial tapi arang nya yang lagi sial hehe...hehe

2 komentar: