Jumat, 28 Januari 2011

Gaji Presiden 6 tahun tidak naik, Gajiku 7 tahun makin tidak jelas

Posted by Haf Sari 10.43, under | 2 comments

Nama ku Mani'ah aku tinggal disebuah desa dijawa timur. Aku memiliki 2 orang putera. Saya bekerja disebuah perusahaan rokok rumahan. Suamiku bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya tidak pasti. Aku berkerja untuk membantu suami mencari penghasilan. Kami merawat sapi sebagai tabungan untuk anak kami. Anak kami yang pertama seharusnya sekarang sudah kelas 3 SMP. Namun karena keterbatasan kemampuan kami anakku tak melanjutkan sekolah. Kami bersyukur anak kami tumbuh menjadi anak yang patuh pada orang tua. Kami akui biaya sekarang sudah tiak ada istila SPP namun biaya sekolah buat kami masih terlalu mahal. Beli seragam sekarang makin beragam, bukan hanya itu kaos kaki saja harus beli dari sekolah. Tidak diperkenankan memakai kaos kaki yang lama. Bukunya juga sekarang tidak diperbolehkan membayar belakangan. Buku LKS akan diberikan jika sudah membayar. Buat orang lain uang yang sekitar Rp 70.000 itu sedikit namun bagi kami itu gajiku seminggu jika banyak garapan. Jika lagi sepi garapan tidak mencapai penghasilan segitu seminggu. Beban kami semakin berat dengan harga kebutuhan lainnya.

Dulu kami hidup bahagia berdua. Kami hidup dengan keadaan yang sederhana, mengandalkan hasil dari sepetak tanah milik kami. Hasil sawah sudah cukup untuk makan kami dengan dibantu penghasilan suamiku. Namun setelah saya memiliki anak dan tumbuh dewasa mulai membutuhkan uang lebih banyak. Aku berkerja saat anak pertamaku kelas 3 sd, dan anak keduaku masih kecil. Selain untuk biaya sekolah juga untuk les ngaji anakku. Paling tidak anakku tumbuh dengan pendidikan agama yang cukup. Sehingga mereka tumbuh denga bersahaja dan akhlak yang terarah. Aku tak ingin anak ku menjadi anak yang nakal dan terjerumus pergaulan bebas. walau aku dan suamiku harus bekerja keras untuk mendapatkan uang demi pendidikan anakku aku senang melihat anakku tumbuh dengan baik. rasa lelah yang timbul saat bekerja, hilang saat pulang melihat anakku memakai baju koko dan kopya pulang dari mengaji. 

Kini anakku sudah smp dan biayapun semakin besar. Anakku yang kecilpun sudah sekolah. Beban semakin berat namun aku berusaha tegar dan selalu memberi motifasi baginya untuk tetap semangat belajar. Semakin lama semakin tidak cukup penghasilan yang tidak menentu membuat kami kesulitan mengaturnya. Gajiku yang juga tidak pasti, kaang mencapai Rp100.000 perminggu namun kadang libur sampai sebulan. Kadang aku berfikir kapankah aku bisa mendapatkan pekerjaan yang memiliki gaji lebih besar atau gaji yang pasti. Saat anakku yang pertama kelas 2 smp kami sudah tidak bisa menutupi kekurangan itu pada anakku. Saat anakku minta uang untuk membayar buku LKS aku hanya bisa bilang "tunggu ya nak kalau gajian aku bayar dan do'akan ibu dapat rezeki lebih". Namun pada kenyataannya gajiku cuma RP12.000 karena garapan sedang sepi. Beberapa hari terakhir aku berangkat kerja namun seharian hanya diam saja karena tidak ada garapan. Suamiku pun sedang menganggur dirumah, mau pinjam tetangga, kami sudah memiliki hutang. 

Anak ku pun mengerti keadaan kami dan ia memutuskan untuk berhenti sekolah. Serasa hati ini tersayat namun apalah daya. Anakku ikut pamannya bekerja sebagai kuli bangunan, sehingga ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun setelah sebulan bekerja proyek pembangunannya rampung. Ia pun menganggur dirumah, aku tahu anakku anak yang tanggu. Seminggu menganggur dirumah ia sudah dapatkan pekerjaan yang baru sebagai buruh cuci mobil/motor sebuah bengkel. Aku senang anakku sudah bekerja kembali, namun aku sedih saat anak seusiannya sekolah. Aku masih punya keinginan untuk menyekolahkan anakku, kadang aku masih bertanya kapan aku memiliki gaji yang pasti??????

2 komentar: