Senin, 18 April 2011

Cinta sampai matiku

Posted by Haf Sari 11.07, under | No comments

Aku adalah seorang pria berusia 28 tahun. Aku akui aku bukan seorang yang tampan namun aku juga bukan seorang yang sangat jelek. Aku seorang pemuda yang memang tidak memiliki penghasilan tetap, hidupku pun tidak karuan. Aku tingal berdua dengan nenekku. Ayahku yang aku sayangi telah meninggalkan aku sejak aku kecil dan ibuku menikah lagi dengan lelaki lain. Sejak itulah aku seakan kehilangan pegangan dalam hidup. Sebenarnya aku dulu ingin meneruskan sekolah namun aku merasa kasihan dengan nenekku. Biaya hidup sehari-hari saja uda berat apa lagi untuk biaya sekolah. Sejak saat itu aku membantu nenek berjualan rujak dirumah. Penghasilan yang tak seberapa namun cukup untuk makan kami berdua.

Aku sangat sedih saat aku menyadari tanpa ijaza aku tidak bisa bekerja dengan layak. Aku kemudian bekerja keras dan dibantu oleh ibu serta nenek akhirnya aku punya motor. Aku kini bekerja sebagai tukang ojek, namun aku juga mencari penghasilan lain dengan jual beli hp bekas, pulsa dan yang lainnya. Usaha apapun asal menghasilkan, halal juga tidak membuat aku meninggalkan rumah aku jalani. Aku kasihan pada nenek jika aku harus meninggalkan rumah, beliau sudah tua aku tak tega meninggalkan ia sendiri.

Kini usiaku sudah sangat matang, aku juga ingin nenek ada teman saat aku tinggal bekerja. Suatu hari aku bertemu dengan seorang gadis remaja didekat rumah. Aku mencintainya saat pandangan pertama, akupun berkenalan dengannya. Ternyata gadis itu gadis desa tetangga yang sedang main kedesaku bersama temannya. Saat ku sapa dia, ia membalas dengan senyuman dan dengan beriringnya waktu kami semakin dekat. Kamipun berpacaran, setiap hari dia aku antar ketempat kerjannya dan aku jemput saat ia hendak pulang. Karena kami merasa cocok dan usiakupun sudah dewasa aku berniat melamarnya dan dia pun mengiyakan ajakanku itu. 

Dengan keyakinan dan kemantapan hati diterima aku memberitahukan niatku kepada nenek. Nenek mengiyakannya akhirnya seminggu setelah itu keluargaku bertandang kerumah pujaan hatiku untuk melamar. Sepulang keluargaku dari rumah pujaan hatiku mereka berkata bahwa lamaranku diterima dan dua minggu kemudian keluarga pujaan hatiku bertandang kerumah untuk membalas lamaranku. Aku sangat bahagia saat itu dan kami pun setiap hari bersama. Namun suatu hari pujaan hatiku berkata padaku bahwa orang tuanya tidak setuju dengan hubungan kami. Seakan tersambar petir disiang yang cerah. Akupun menanyakannya kenapa kok orang tuamu tiba-tiba tak setuju? ia menjawab tidak tau.

Hubungan kita masih tetap baik dan masih seperti dahulu walaupun tanpa restu orang tuanya. Rasa cintaku memang buta. Dalam benakku hanya takut kehilangan dia. Aku hanya ingin membuatnya bahagia dan membuat orangtuanya menyetujui hubungan kita. Setelah ia membatalkan pertunangan kami dengan alasan orang tuanya tidak setuju namun aku masih sering antar jemput dia kerja. Saat dia hendak pulang kerja ia selalu telfon agar aku menjemputnya. Aku sadari pujaan hatiku hanya telfon minta dijempun jika ada maunya yaitu mengajak aku jalan-jalan. Namun apalah daya cintaku sudah tak terbendungkan. Apapun aku lakukan demi dia sampai kuacukan apa kata keluarga dan nenekku. Sudah setahun aku menjalani hubungan backstret ini. Yang aku takutkan hanya kehilangan dia sedangkan orang tuanya tidak merestui kami.

Sering aku bertanya kepadanya sayang kah dia padaku? ia menjawab sayang. Dia pun bilang aku harus bisa membuat orang tuannya menyetujui hubungan kami. Namun sekian lama tidak ada kelanjutannya namun   tetap menyayanginya walaupun apapun yang terjadi. Setelah lama kami berpacaran tetap seperti itu, dalam pikiranku sangat bergejolak. Dilain sisi aku kasihan dengan nenekku yang selalu kepikiran dengan tingkahku yang masih berhubungan dengan wanita yang jelas-jelas menolakku. Dilain sisi aku masih cinta padannya dan saat dia telfon ataupun sms aku jiwaku selalu bergejolak untuk meng iyakan permintaannya. Namun saat sudah aku lakukan dan keluargaku menanyakannya aku jadi bingung tak karuan apa yang aku lakukan itu memang salah.

Hari berganti hari, dengan kondisi seperti itu kondisi tubuhku menurun. Aku sering mengalami sakit perut dan pusing karena sering lupa makan kebanyakan melamun. Namun rasa sakit seraya hilang saat bertemu dengannya. Inilah akhir dari segalanya, hari senin siang aku ditelfon kalau pujaan hatiku balik dari kerja karena katanya tidak ada garapan. Akupun menjemputnya ketempatnya kerja. Setelah itu aku mengajaknya jalan-jalan ketaman serta ketempat saudaraku. Sakit sudah tak tertahankan, tigahari setelah itu aku dibawah kerumah sakit. Namun rumah sakit sudah tidak mau menerima ku karena sudah terlalu parah dan keluargaku menyalahkan ku karena hanya karena wanita aku seperti ini. Sorepun menjelang aku sudah tidak tahan dan diapun tak kunjung menjengukku. Namun naas malaikat penjemputnyawalah yang datang tanpa melihat dan mendengar suara nya yang terakhir kalinya aku menghembuskan nafas yang terakhir. Selamat tinggal pujaan hatiku, walau tak sempatku memilikimu aku hanya berharap kebahagiaanmu.

SEKIAN

0 komentar: