Senin, 08 Agustus 2011

Kwalitas Beras versi petani

Posted by Haf Sari 09.25, under | No comments

Beras merupakan behan makanan utama sebagian besar warga Indonesia. Tidak salah jika setiap tahunnya harga beras terus merangkak naik. Harga beras juga menyeret harga kebutuhan lainnya naik. Stok beras naik salah satunya dikarenakan berkurangnya lahan pertanian. Seperti halnya didesaku banyak petani yang lebih memilih menjual sawahnya untuk usaha lain. Persawahan yang dijual kebanyakan digunakan untuk perumahan. Pilihan para petani ini sangat sulit sebenarnya namun ini harus dilakukan karena kebutuhan hidup juga. Harga pembajak sawah sekarang sangat tinggi, belum lagi untuk perawatan lainnya. Banyak bantuan pemerintah yang tidak tepat sasaran dan disalahgunakan oleh pihak-pihak yang dipercaya. Sepengetahuan saya didesa saya mendapatkan dana lumayan banyak berupa kredit yang diberikan kepetani namun pada kenyataannya bunga yang diberikan mencekik yaitu 10% lebih besar dari bunga bank. Di lain sisi hasil yang dicapai tidak sesuai dengan harapan dikarenakan cuaca yang tidak dapat diprediksi membuat serangan hama merajalela. Dalam tahun ini saja dua kali petani gagal panen yang diakibatkan serangan hama wereng dan juga tikus yang membabibuta. Bagi seseorang yang memiliki uang banyak dan koneksi bertani merupakan hal yang sangat menjanjikan namun bagi petani awam bertani bukan lagi pilihan tepat.

Harga gabah ataupun beras dari petani bisa selisih Rp1000 perkilo dari harga toko padahal kwalitas beras sama. Sebenarnya kwalitas beras dari petani tidak kalah dengan ditoko hanya saja petani tidak memiliki logo seperti beras ditoko. Lihat saja beberapa pemberitaan yang diangkat oleh teman-teman blogger lainnya mengenai kwalitas beras Operasi Pasar ataupun beras Bulog . Sebagian besar postingan bahwa beras OP atau Bulog berkwalitas rendah. Ini merupakan kabar yang ironis padahal para petani cukup kesulitan mencari pembeli dengan harga yang sesuai. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa petani selalu merugi karena harga jual dari petani sangat rendah padahal harga yang beredar dalam pemberitaan lumayan tinggi. Saya juga merasa sangat sedih saat menerima kenyataan bahwa beras yang saya tawarkan walaupun harganya lebih rendah dari harga toko masih saja gak ada yang beli padahal mereka belum melihat berasnya dengan alasan tidak ada jaminan dari perusahaan yang mau pesan beras bisa follow saya di twitter @thimitcimut atau kirim pesan di facebook untuk menghindari penipuan saya tidak menerima pembayaran melalui Cek ataupun via transfer..sistemnya langsung (ada uang ada barang) he..he..he kok malah jadi curhat n promo nie q..ywd kita kembali kepokok permasalahan.

Kwalitas beras menurut petani dipengaruhi oleh pangsa panennya yaitu padi yang dipanen itu waktu musim kemarau atau musim hujan. Padi yang dipanen saat musim hujan kurang baik karena beras yang dihasilkan akan berwarna agak gelap. Warna gelap ini dipengaruhi oleh guyuran hujan yang terus menerus dan kurang keringnya padi saat dijemur selain itu beras juga saat digiling banyak yang patah (remuk). Beda dengan  beras hasil panen musim kemarau, berasnya putih juga besar-besar.

Jenis beras beserta kwalitasnya.
  • Beras 64 => Menurut petani beras terbaik adalah jenis 64 ini yang dijual ditoko dengan lebel. Beras 64 ini berciri bentuk beras lebih panjang dari beras lainnya.
  • Beras Bramu => Beras ini juga merupakan Beras favorit kedua setelah 64. Beras jenis ini bentuknya hampir mirip dengan beras 64 namun nasinya terlalu lembek bagi petani. Beras ini biasa dipakai oleh restoran atau rumah makan. Harganya lebih rendah dari 64 dipetani.
  • Pandan Wangi => Beras yang memiliki aroma harum ini tidak begitu disukai oleh kalangan petani. Itu dikarenakan kebutuhan yang paling penting petani adalah untuk dimakan sebagai nasi bukan dibuat kue. Di pedesaan beras jenis ini hampir tidak ada yang mau beli. Jenis beras ini ternyata harganya lumayan tinggi diperkotaan yang berfungsi bahan Kue. Dengan aroma harum mereka tidak perlu menambahkan pengharum pada kue yang dibuatnya.
  • Prentel, raja lele dan lainnya dikelompokan pada satu sebutan yaitu beras bulat. Beras ini tidak begitu disukai karena terlalu lembek dan ukurannya yang kecil juga harga jualnya yang rendah.
  • Ketan Putih => Untuk beras ketan putih yang membedakan adalah warnanya lebih putih pekat dibandingkan beras biasa. Beras ketan putih memiliki dua jenis yaitu ketan putih tinggi dan rendah. Untuk beras ketan yang tinggi harganya lebih mahal karena masa panennya lebih lama juga pemanenannya lumayan sulit karena tidak memakai sabit melainkan memakai alat yang disebut ani-ani dan harus diambil perbatang dengan menyertakan sedkitar 20cm batangnya dan juga pada saat hendak digiing harus ditumbuk ahulu untuk memisahkan dari batangnya. Namun ketan putih tinggi ini memiliki kelebihan yaitu lebih lemas dan enak untuk dikonsumsi saat dijadikan kue. Untuk saat ini jenis padi ketan putih tinggi ini sudah jarang sekali ditanam.
  • Ketan Hitam => Beras ketan hitam hampir sama dengan ketan putih hanya warnanya saja yang membedakan. Harga ketan Hitam lebih mahal karena proses penggilingannya yang sulit. Untuk ketan hitam pendek hanya menggunakan penggilingan pecah kulit saja 2-3 kali penggilingan. Ini dilakukan agar warna hitam dari ketan tersebut tidak hilang dan berubah jadi putih.
Kwalitas beras juga ditentukan oleh waktu penimbunan. Menurut petani beras yang baik itu beras yang ditimbun cukup lama. Tunggu dulu, bukan berasnya yang ditimbun melainkan Gabahnya. Untuk hasil gabah yang telah ditimbun nasi yang dihasilkan akan lebih rekah atau mengembang. Para petani sebagian yang memiliki stok padi yang banyak memilih untuk menimbun bentuk gabah. Hal ini dikarenakan rendahnya harga jual dan beras akan lebih enak dan mengembang saat menjadi nasi jika gabahnya ditimbun dahulu. Catatan : Bukan beras yang ditimbun namun gabah. Jika beras yang ditimbun maka akan seperti beras Bulog atau OP yang memiliki aroma Apek dan kadang keluar ulatnya. Menurut saya seharusnya bulog tidak menimbun beras dengan jumlah yang sangat banyak dan dalam jangka waktu yang sangat lama karena itu mengurangi kwalitasnya. Mendingan timbun dalam bentuk gabah saja Atau memberikan pendanaan untuk lumbung padi desa agar disetiap desa bisa menyimpan padi dengan cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pangan didesa tersebut. Bulog ternyata juga tidak mengambil beras dari petani langsung melainkan dari tengkulak, bukankah hal ini percuma saja bagi petani. Petani tetap mendapatkan harga rendah dari tengkulak dan Bulog mendapatkan harga tinggi dari tengkulak. Hal ini menurut saya hanya menguntungkan tengkulak saja bukan petani keseluruhan. 

0 komentar: