Senin, 05 September 2011

Kekuasaan Allah

Posted by Haf Sari 09.51, under | No comments

Sebuah kisah nyata yang saya alami sendiri 17 tahun yang lalu saat usiaku masih 7 tahun. Keluargaku merupakan keluarga Broken home. Orang tuaku bercerai sejak aku usia 6 bulan dan aku memiliki seorang kakak perempuan. Awalnya semuanya berjalan seperti kebanyakan keluarga lain. kejadian ini berawal saat aku mulai masuk sekolah dasar. Diskriminasi oleh teman-teman mulai aku rasakan. Bukan hanya teman sekelas namun kakak kelaspun selalu menindas. Bukan hanya kekerasan mental namun juga kekerasan fisik. Apalah daya trauma melanda. Kakakku yang lebih besarpun tidak bisa berbuat apa-apa. kakakku hanya bisa menyaksikan tanpa memberikan pembelaan. Hal tersebut berjalan beberapa hari bahkan berminggu-minggu. Mereka selalu mengeroyokku jika aku mendapatkan nilai lebih dari 60. Entah apa yang mereka inginkan dan mereka pikirkan. Kejadian yang parah saat itu ada tugas rumah menggambar. Aku menggambar sendiri namun diajari kakakku untuk menggambar pantai. Tidak disangka gambar tersebut mendapatkan nilai 80. Saat istirahat para kakak kelas laki-laki itu masuk kedalam kelasku dan terus memakiku. Mereka menuduh kakakku yang menggambahrkan, padahal mereka juga menggambarkan adik-adik mereka. Mereka terus memaki sambil mendorongku sampai jatuh kelantai.

Hal itu terus terjadi, bukan hanya makian, ataupun kekerasan namun mereka juga meludah dan pernah kencing diatas kepalaku. Begitu menyedihkan namun begitu sulit dilupakan. Setelah 5 bulan aku sekolah aku jatuh sakit. Orang tuaku membawaku kepuskesmas dan dirawat inap namun hanya 2 minggu sudah disuruh bawa pulang karena tidak ada hasil. Akhirnya seminggu kemudian aku dibawah kerumah sakit umum di Bangil. 

Ketulusan seorang ibu
Ibuku bekerja disebuah perusahaan tekstil. Ibuku bekrja siang hari dan malam harinya menungguiku dirumah sakit. Saat siang hari yang menungguiku adalah nenekku. Setiap hari tanpa lelah ibuku selalu melakukan hal tersebut, bekerja sambil menungguiku. Begitu besar perjuangannya, saat itu entah kemana bapakku. 

Setelah sebulan dirawat dan berganti-ganti obat mulai dosis rendah hingga tinggi sampai ronsenpun telah dilakukan tetap saja tidak ada perubahan. Hasil ronsen menyatakan ada tulang rusuk yang patah namun tidak berbahaya. Yang tidak diketahui adalah penyakit dan obatnya. Akhirnya sang dokter menyuruh untuk membawaku pulang saja. Percuma habis uang banyak namun tidak ada hasil. Kakiku tidak bisa digerakkan, tanganpun seakan berat untuk mengambil sesuatu.

Hari kepulanganku kerumah ibu sedang bekerja jadi tidak tahu. Rencananya ibu akan kerumah sakit sore hari karena masih mau cuci baju yang menumpuk. Dengan tubuh yang rentah nenekku membawah barang bawaan kesebuah becak dan aku digendong situkang becak. Setelah naik becak masih harus neik mobil, tidak jauh beda sang tukang becak menggendongku ke mobil tersebut. Sesampainya di Pandaan sang kernet memanggilkan ojek. Kamipun sampai didesaku, dibelakang rumah terlihat ibuku sedang bersiap berangkat kerumah sakit. Akhirnya aku kembali kerumahku lagi walaupun aku tak bisa jalan kaki.

Saat menungguiku dalam kamar ibu bermimpi bertemu seorang laki-laki dan menyuru ibuku untuk tandatangan. Mungkin itu adalah tandatangan atas nyawaku, namun ibu tidak mau. Sebuah firasat agar aku tetap hidup walaupun dalam kondisi yang buruk. Setelah beberapa minggu aku mulai turun kebawah dan bermain. Bukan dengan berjalan ataupun merangkang namun dengan ngesot. Kemauan keras dan kebesaran tuhan membuatku terus berusaha kuat. Kesabaran ibuku dan nenekku yang selalu setia menemani serta menatahku bagai bayi membuatku terus semangat. Setelah beberapa minggu dengan kekuasaan Allah aku bisa berjalan dan berlari lagi. Aku bersyukur sekali aku bisa kembali bersekolah di tahun ajaran yang baru walaupun sudah telat. Syukurku tak pernah luntur oleh apapun hingga kini aku bisa berbagi cerita dengan teman-teman semua..
Semoga cerita ini menjadi semangat dan bermanfaat..percayalah Allah tidak akan meninggalkan umatnya yang mau berusaha..

0 komentar: