Sabtu, 31 Desember 2011

Candi Jawi dan legenda Putri Jawi

Posted by Haf Sari 18.38, under | 13 comments

Sebagaimana telah diketahui dan banyak diposting mengenai sejarah Candi Jawi. Candi Jawi terletak di pinggir jalan desa candiwates kecamatan Prigen. Jalur menuju tempat ini sangat mudah, bisa naik mobil dengan bayar RP 1000 dari terminal pandaan. Di terminal pandaan kita akan menjumpai pare kernet teriak, trawas trawas trawas atau tretes tretes tretes bisa juga Porong porong porong bahkan malang malang malang. Untuk menuju candi jawi hanya ada dua pilihan yaitu mobil tretes atau Trawas. Untuk yang belum tahu candi jawi jangan tunjukan kalau kalian belum pernah kesana, mending bilang plus bayar turun di candi jawi setelah mobil berjalan sekitar 10menit. Kernet angkot nakal biasa meminta ongkos tambahan jika orang tersebut bukan orang sekitar atau belum tahu tarif aslinya. Prigen masih pedesaan jadi tidak ada tarif baku baik Ojek ataupun Angkot. Sayang sekali saya kesana yang kesekian kalinya ini pas banget nyampek langsung hujan jadi tidak puas Foto-foto. Yang ini foto ibuku yang selalu mendukungku disetiap keputusan termasuk ikut lomba yang diadakan Blogger ngalam ini, tapi yang atas itu pengunjung yang lagi foto-foto malah kena foto..heheheh

Jika ke Candi Jawi jangan sampai lupa kunjungi wisata lainnya disekitar sana antara lain Air terjun Sekuti, Air terjun Kakek bodo, Talang abang, pucuk truno dan mendaki dan berkemah di kaki gunung welirang, cocok banget nie yang belum tahu belerang bisa langsung lihat, megang dan bawa pulang belerang, tapi jangan banyak-banyak kasian yang ngambil dari kawah gunung welirang. Parah pekerja berangkat setelah sholat subuh kamu bisa ikutan tuh, seruh bangat deh pokoknya, jangan lupa permisi ama yang punya hutan, angker loh hutannya, temanku saja sampai 3 kali kesurupan heem emang tidak sesuai rencana yang ikut 17 orang jadi orang terakhir biasanya diajak menghuni hutan. Maka dari itu jangan bawa orang dengan angka ganjil yach biar aman, bukannya percaya tahayul tapi kasihan yang diajak menghuni hutan, kami ber 16 tidak sanggup memegangi teman kita yang sendirian saat akan lolos, untung saja dibantu perkemahan sebelah dan langsung mendapatkan pertolongan pertama. Alhasil kita harus pulang lebih cepat dari rencana awal, kita hanya menginap satu malam saja dari pada ada teman kita yang hilang nyawanya.

Singkat saja mengenai sejarah candi jawi yang saya baca di TKP alias saat berkunjung ke candi jawi. Dalam kitab Negarakertagama candi ini disebut Jawa-jawa atau Jajawi. Candi Jawi bukanlah candi pemujaan namun sebuah candi tempat abu jenazah raja kertanagara. Menurut Nagarakrtagama, candi yang sarat akan nilai-nilai budaya ini pada candrasengkala atau tahun Api Memanah Hari (1253 C/1331 M) pernah rusak karena disambar petir. Selain bangunan candi, ada salah satu arcanya yang ikut rusak yaitu arca Maha Aksobaya. Hal ini membuat Raja Hayam Wuruk sangat sedih, sehingga satu tahun kemudian (1332 M) ia mengerahkan rakyat untuk memperbaikinya kembali. Namun, sama seperti candi-candi lain yang ada di Jawa, Candi Jawi baru mulai diperhatikan lagi pada awal abad ke-20, setelah bangunannya menjadi porak-poranda dan begitu banyak unsur yang hilang. Candi Jawi baru dipugar kembali pada tahun 1938 k`rena kondisinya sudah rusak. Akan tetapi, pemugaran dihentikan pada tahun 1941 karena sebagian batunya telah hilang.

Usaha pemugaran baru dimulai lagi pada Pelita II (1975/1976) yang dilakukan oleh Dit. Linbinjarah, Ditjen Kebudayaan, Depdikbud dengan Drs. Tjokrosudjono (Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur) sebagai pimpinan lapangan. Dalam pemugaran yang ketiga ini, berkat kejelian seorang pekerja yang bernama Mbah Karto Plewek dari Prambanan, batu-batu yang hilang dapat ditemukan lagi sebingga pemugaran dapat dilanjutkan sampai selesai pada tahun 1980. Dua tahun kemudian (1982), Candi Jawi diresmikan oleh pemerintah dan dijadikan sebagai bangunan cagar budaya dan sekaligus obyek wisata sejarah.


Candi Jawi dibangun di atas batur atau dasar yang tinggi dan dikelilingi oleh halaman dan kolam. Di luar kolam masih terdapat sisa-sisa halaman yang dihubungkan dengan pintu gerbang. Namun bentuk halaman, gerbang dan bangunan lain termasuk pagar keliling tidak jelas lagi karena runtuh, hilang atau ditimpa bangunan lain di atasnya. Dalam sebuah kolam tersebut terdapat tanaman bunga teratai, menurut penjaga bunga teratai mekar saat malam hari, mulai jam 6 sore sampai jam 9 pagi dan kemudian kuncup lagi. Bagian belakang candi terdapat taman dan ditaman tersebut ada seonggok batu bata yang mungkin dulunya merupakan bekas bangunan. Sebelah kanan taman terdapat pohon beringin besar.

Candi Jawi berdiri pada sebuah lahan persegi empat yang bahannya terbuat dari batu hitam dan batu putih, berukuran luas 14,24x9,55 meter dengan tinggi 24,50 meter. Seperti candi-candi yang lain, candi ini terdiri atas tiga bagian, yaitu: kaki, badan dan atap. Pada bagian kaki candi terdapat pahatan relief yang sampai saat ini belum diketahui maknanya secara pasti, yaitu relief yang menggambarkan tokoh wanita dan pengiring (punakawan), bangunan rumah maupun candi, dan panorama dengan beraneka pepohonan. Di depan tangga naik candi terdapat sisa bangunan kelir yang berbentuk empat persegi panjang yang letaknya melintang di depan pintu yang menghadap ke arah timur agak serong ke utara, membelakangi Gunung Penanggungan. Posisi pintu ini oleh sebagian ahli dipakai sebagai alasan untuk mempertegas bahwa Candi Jawi bukan tempat peribadatan atau pradaksina, karena candi-candi untuk tempat peribadatan biasanya menghadap ke arah gunung, tempat bersemayamnya para dewa.

Menurut Negarakertagama, pada bagian dalam candi terdapat bilik-bilik tempat arca Siwa, Nandiswara, Durga, Ganesa, Nandi, dan Brahma. Saat ini arca-arca tersebut telah disimpan di dua museum. Acra Durga disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya. Sedangan arca-arca yang lainnya lagi, kecuali arca Brahma disimpan di Museum Trowulan. Arca Brahma tidak disimpan karena sudah tidak ditemukan lagi. Bilik bilik arca tersebut berada di semua sisi candi, depan dua, samping kiri,kanan dan belakang. Fotoku ini diambil dari bilik depan yang memiliki dua bilik, untuk kalian jika memotret hati-hati jatuh karena tempat untuk motret sempit jadi harus miring yach.

Dari sekian panjang lebarnya cerita candi Jawi namun tidak diketahui pasti sejarah candi Jawi. Namun pemikiranku saja, candi jawi ini ada kaitannya dengan legenda Putri jawi. Dalam relif pada Candi Jawi yang belum terpecahkan itu, relief yang menggambarkan tokoh wanita dan pengiring (punakawan), bangunan rumah maupun candi, dan panorama dengan beraneka pepohonan. Dalam legenda putri jawi merupakan seorang putri yang elok, tinggi, langsing, putih seperti priyayi pada umumnya dengan jari mucuk eri dan lembean blarak sempalnya. Cerita putri Jawi sangat menarik didengar, saya akan coba menceritakan dengan sepengetahuan saya.

Kisah Putri Jawi

Seorang putri cantik yang bernama putri jawi. Putri jawi diutus ayahnya pergi kepasuruan untuk menemui seseorang yang dijodohkan dengannya. Punggawa kerajaan Kebo swayuwo menyiapkan pasukan untuk mengiring Putri Jawi pergi kepasuruan. Sang putri telah pergi dan kebo Suwayuwo merasakan benih-benih cinta kepada sang putri. Di saat itu Kebo Suwayuwo melamun, didalam lamunannya dia bermesraan dengan sang putri. Akhirnya, dia memutuskan untuk menemui sang putri. Sesampainya di pasuruan, dia segera menemui sang putri, di situ dia langsung menyatakan cintanya kepada sang putri, tetapi sang putri menolaknya karena mengemban tihtah sang ayah untuk menemui seseorang yang akan menjdi suaminya. Sang kebo suwayuwo  tidak putus asa, dia mengikuti kemana perginya sang putri. Ditengah perjalanannya, gelang sang putri jatuh, tetapi sang putri tidak mengetahuinya.. Kebo suwayuwo yang menemukannya, dan ditempat jatuhnya gelang itu dia menamakannya desa itu menjadi desa nggelang. Desa nggelang sekarang terdapat di kecamatan pandaan dan nama nggelang tidak berubah sampai sekarang. Lokasi tepatnya desa nggelang berada di sebelah kiri jalan arah dari Malang ke Surabaya setelah masjid cenghoo. Disana anda akan menjumpai patung Sapi menyusui anaknya diseberang jalan menuju desa nggelang.

Sang putri berjalan kearah barat dan bersembunyi dibalik sebuah pagar, dengan kesaktiannya Kebo Suwayuwo mengetahuinya dan memusnahkan pagar itu. Kebo Suwayuwo member nama desa itu desa pager. Desa pager terletak di penghujung jalan perempatan dari desa nggelang. Didesa pager ada perempatan yang jalan tersebut mengarah ke trawas, pandaan (perempatan kasri), gunung penanggungan, desa nggelang. Jika mengambil arah ke trawas disitu ada jalan setapak yang langsung mengarah ke Candi Jawi. Dusun Pager desa Sumbergedang merupakan dusun kecil namun ramai saat pagi hari, disana sampai sekarang terdapat pasar krempyeng. Pasar krempyeng merupakan sebuah pasar yang buka hanya dipagi hari. Jam 10 siang hari pasar itu sudah tidak ada dan menjadi sepi seperti desa pada umumnya.

Ditengah perjalanan sang putri Jawi dia bertemu dengan pasukan majapahit dan meminta pertolongan kepada mereka, akhirnya mereka mau menolongnya. Terjadilah pertempuran antara prajurit majapahit dengan prajurit kebo suwayuwo. Di tempat pertempurantersebut bercecer banyak darah sehingga Kebo suwayuwo member nama Kali Gete. Kali Gete yang berarti sungai darah. Sebuah sungai yang dinamakan kali Gete pada jaman dahulu ternyata berada di dusun Njasem. Dusun njasem masih termasuk kawasan desa Ngepek kecamatan Gempol. Tepatnya di ujung desa njasem, perusahaan ES kasri masih ke barat sekitar 50 meter. Sebelum Griya SAKINAH yang biasa dikenal oleh masyarakat perumahan basofi. Sungai besar yang dimanfaatkan oleh warga untuk mencari pasir. Jika anda kesana setiap hari ada saja warga yang mencari pasir. Di pinggir-pinggir jalan terdapat tumpukan pasir ataupun kerikil.

Dalam pertampuran pergelangan tangan Kebo suwayuwoterluka, dan darahnya terus menetes, tempat itu dinamakan desa Tretes. Desa tretes sekarang menjadi sebuah kota yang megah dengan banyak hotel dan villa. Desa tretes ini berada disebelah Air terjun Kakek Bodo dan jalan menuju gunung welirang. Sampai sekarang nama tretes tidak berganti nama.

Kebo suwayuwo terus mencari sang putri, tetapi tangan kebo suwayuwo terasa perih, akhirnya dia menamakn desa itu dengan nama Prigen.Prigen tepatnya berada  di sedikit kebawah dari desa Tretes. Nama Prigen masih tetap sampai sekarang namun sekarang menjadi pusat dari beberapa desa disekitarnya. Desa prigen terdapat setelah Candi Jawi jadi kita kalau mau ke prigen langsung saja dari candi jawi melanjutkan perjalanan ke Prigen, tretes dan menikmati panorama Air terjun Kakek bodo.

Di tengah perjalanannya sang putri, bertemu dengan Ki Ageng Pandak, Sang putri meminta pertolongan kepada dia, lalu Ki Ageng Pandak mau menolongnya, sang putri disuruh masuk kedalam rumah Ki Ageng Pandak. Akhirnya Kebo suwayuwo bertemu dengan Ki Ageng Pandak. Di situ terjadi pertempuran antara Ki Ageng Pandak dengan kebo suwayuwo. Karena pertempuran itu sampai malam, Ki Ageng Pandak memutuskan untuk istirahat, kebo suwayuwo pun setuju. Tetapi itu hanyalah akal-akalan kebo suwayuwo saja, tiba-tiba dia menusuk Ki Ageng Pandak dari belakang. Putri jawi langsung menemui Ki Ageng Pandak Yang terluka setelah Kebo Suwayuwo pergi. Ki Ageng Pandak sebelum meninggal memberikan wasiat kepada sang putri,untuk mau menikah dengan kebo suwayuwo tetapi dengan 1 syarat yaitu mencarikan air yang bening untuk Putri karena Kebo Suwayuwo tidak bisa dikalahkan namun bisa dibohongi. Tempat Ki Ageng Pandak meninggal dinamakan Desa Pandak dan sekarang berubah nama menjadi Pandaan. Kalian sudah tahu kan Pandaan? Pandaan menjadi kota yang lumayan besar dibandingkan tempat lain dalam cerita. Pandaan terdapat The Taman Dayu CBD dan golf. Pandaan menjadi pusat perdagangan daerah sekitar.

Sang Putri Jawi melanjutkan perjalanan namun Kebo Suwayuwo tetap mengikutinya. Kebo suwayuwo menemui sang putri dan ingin meminta jawaban dari sang putri Jawi. Putri Jawi berkata pada Kebo Suwayuwo mau menikah dengan kebo suwayuwo tetapi kebo suwayuwo harus mencarikan air yang bening untuknya. Mendengar hal itu Kebo Suwayuwo langsung bergegas membuat sumur. Ketika kebo suwayuwo sedang menggali tanah, prajurit majapajit lansung menguburnya di dalam galian tersebut. Dan putri jawi memberikan nama desa itu dengan nama desa suwayuwo. Desa swayuwo berada di antara Pandaan dan sukorejo, jalan raya surabaya-Malang. Jika Ingin tahu tepatnya sekarang suwayuwo menjadi Central Kapuk yaitu tempat produksi bantal, kasur dan lainnya yang terbuat dari kapuk terbesar. Jika dilihat dari Jalan Raya SBY - Malang desa Suwayuwo dari Perusahaan PT.Eksterntek hingga Perusahaan HM SAMPOERNA.

Sayang sekali Kisah ini saya ketahui hingga kematian Kebo Swayuwo saja. Saya tidak mengetahui kelanjutan cerita hingga Sang Putri menikah dengan seorang pria yang dijodohkan oleh ayahnya. Tidak diketahui siapa pemuda itu? apakah masih ada hubungannya dengan kerajaan singasari yaitu kertanegara atau tidak. Ini masih menjadi misteri, kisah ini diambil dari sebuah tokok pewayangan yang berjudul Kebo Swayuwo.

Terima kasih dan semoga bermanfaat, untuk kesalahan dalam penceritaan harap dimaklumi dan menerima saran atau masukan mengenai cerita secara lengkap.

13 komentar: