Minggu, 26 Februari 2012

Makna koin melati

Posted by Haf Sari 20.49, under | No comments

Ini adalah kisah masa kecilku bersama kakakku. Sejak kecil kakakku memiliki cita-cita menjadi guru. Kami berdua bukanlah seorang anak dari kalangan menengah keatas. Perceraian orang tua kami sejak aku bayi, membuat kami hanya percaya pada diri sendiri. Saat sekitar tahun 1999 kami berdua memiliki tekad untuk mengumpulkan uang koin bergambar melati. Dulu kami tidak setiap hari mendapatkan uang saku, saat kami diberi uang saku kami jarang menggunakan untuk jajan, hal ini menjadi kebiasaan hingga sekarang. Karena kami tahu, hari ini kami punya uang namun besok tak tentu memiliki. Sekitar tahun 1999 yaitu saat aku baru lulus sekolah SD dan akan menginjak SMP ibuku menikah lagi. Saat itu kami semakin tidak lagi menggantungkan segalanya pada siapapun.

Kami tidak selalu bersama, aku kadang tinggal bersama ibu dan kakak tinggal bersama nenek atau sebaliknya. Namun kami memiliki tekat untuk mengumpulkan koin Rp 500an yang bergambar melati, bertuliskan tahun 1992 atau 1992 dibagian belakangnya. Setiap memiliki uang lebih aku mengumpulkannya. Bunga melati merupakan sebuah lambang kesucian dan ketulusan, begitu pula hubungan persaudaraan kami. Saat aku di ganggu temanku, kakak hanya bisa melihat saja, karena kami hanya 2 gadis kecil yang tak berdaya. Aku tahu dalam diam kakak merasakan kesal dan sedih, seperti itu pula sekarang. Saat ortu atau orang lain berkata ketidak bisaan kakak menggunakan komputer, dalam diamku menyisipkan kesal dan sedih, seakan ingin aku marah, namun hanya terdiam.Kami memiliki keinginan yang berbeda. kakakku ingin sekali menjadi seorang Guru sedangkan aku menginginkan memiliki sebuah komputer dan berkerja sebagaimana mestinya (berfikir kondisi kami tak memungkinkan untuk kuliah). Suatu hari celana olahraga sekolahku sobek dan kakakku mengajakku kepasar untuk membeli yang baru. Karena kami memang tidak memiliki uang lain selain uang koin yang kami kumpulkan itu, sehingga aku membeli sebuah celana olah raga dengan uang itu. Waktu itu harganya Rp 18.000 atau sekitar 36 koin bergambar melati (namanya juga dua anak kecil, berapapun harga yang di beritahukan, langsung saja bayar tanpa menawar). Entah berapa uang koinku saat itu namun kami memang bertekat untuk mengumpulkan uang yang kami miliki untuk membeli kebutuhan kita.

Uang yang seharusnya untuk naik ojek aku tabung dan aku jalan kaki pulang sekolah sekitar satu setengah jam perjalanan. Saat kelas satu masuk sore dan kalau tidak salah nyampek rumah uda Adzan maghrib. Aku tidak pernah malu untuk berjalan kaki sendirian walaupun teman-temanku tidak. Aku selalu berfikir hari ini aku diberi uang untuk naik ojek tapi besok belum tentu.

Koin Melati sebuah tanda kebersamaan kami, walaupun kami sampai sekarang tidak tinggal bersama. Koin melati menjadi saksi pertama kali ke Malang di sekitar tahun 2004 yang lalu. Saat masih duduk dikelas 2 SMA. Demi menjenguk kakak ku yang di rawat di Rumah Sakit Saiful Anwar, dengan membawa hanya uang recehan dan berangkat sendirian. Di terminal arjosari aku turun, namun tidak tahu arah. aku mengikuti seseorang namun orang itu naik taksi. Saat itu aku masih tidak memiliki HP, ku berjalan terus menuju jalan besar dan menghadang setiap angkot sambil berkata "Rumah Sakit Saful Anwar". Tak satupun yang jurusan Rumah Sakit Saiful Anwar, hingga sekitar jam 5.30. Akhirnya ada juga, sebuah angkot tanpa penumpang, hingga Rumah Sakit sang Pak Sopir hanya mengantarku saja seorang diri. Masuk Rumah Sakit aku tidak tahu kakak ku dirawat dimana, ku berjalan masuk rumah sakit dan lorong gelap itu. seorang suster kutemui dan berkata "untuk pasien setelah operasi ruangan depan sana". Kucari dan bertanya kembali, ternyata daftar nama pasien baru diperbarui sehingga tadi aku tidak melihatnya.

Menginap dirumah sakit, tidur dilantai beralaskan koran disebuah lorong rumah sakit. Dasar seorang anak tanpa pengalaman, dari Rumah Sakit Saiful Anwar yang seharusnya bisa langsung naik angkot, eh aku malah jalan sampai hampir bundaran. Parahnya lagi, aku tidak tahu yang namanya Terminal Arjosari, pas mau turun maksudku mau turun di terminal tapi yang belakang, eh sama Pak Sopir diturunkan didepan, sehingga aku jalan jauh untuk masuk ketempat ngetamp bus ke pandaan. Dengan berseragam sekolah aku mencari bus ke pandaan. tanpa melihat tulisan aku masuk kesebuah bus, untung saja ada seorang ibu yang ku tanyai, ternyata bus itu jurusan ke Blitar. Wedew, langsung buru-buru keluar dan mencari bus lagi. Tahu gak yang lucu lagi aku kan tidak tahu tarif bus dari malang ke pandaan berapa, trus ada seseorang yang turun di Taman Dayu dengan membayar Rp 1500 tapi tidak tahu naiknya dari mana tapi sepertinya tidak dari malang. Karena itu aku juga membayar Rp 1500 padahal jaraknya lebih jauh aku. Mungkin sang Kondektur kasihan melihatku yang lagi dalam kondisi kuluh-kuluh pakai seragam sekolah pula, jadi sang Kondektur cuma tersenyum dan bertanya "
Kondektur :turun dimana dek?" dengan lugu aku menjawab "
Aku :kalau bisa turun didepan sekolah SMK PGRI Pandaan"
Kondektur : kalau disitu gak bisa dek, bagaimana kalau di terminal?
Aku : jangan pak,  terlalu jauh, nanti aku telat sekolahnya pak.
Kondektur : ok deh turun diperempatan aja yach. tapi busnya tidak berhenti, cuma pelan aja, nanti kamu lompat yach?
Aku : iya pak terima kasih

Dari situlah menjadi sadar bahwa arti koin melati begitu berharga. Sampai kinipun aku masih menyimpan beberapa koin melati itu. Insya Allah sampai kapanpun aku akan menyimpannya sebagai tanda persaudaraan dengan kakak. Sebuah tanda suci dan tulus persaudaraan

0 komentar: