Sabtu, 21 April 2012

Petani juga Kartini

Posted by Haf Sari 10.41, under | 7 comments

Dalam kesempatan memperingati hari Kartini. Hari kartini adalah sebuah hari memperingati perjuangan seorang pahlawan wanita Indonesia yang dalam perjuangannya mencerdaskan bangsa terutama wanita Indonesia. Seorang wanita tangguh yang berasal dari Jawa. Seorang wanita tangguh yang sampai sekarang dikenal karena jasa beliau wanita sekarang bisa bersekolah dengan leluasa. Dengan perkembangan jaman istilah semakin maju dengan kata emansipasi wanita, sebuah kata bahwa seorang wanita juga bisa seperti laki-laki dalam tanda kutip. Jaman dahulu wanita tidak diijinkan untuk mengenyam pendidikan baca tulis. Seorang wanita hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Dengan jasa RA Kartini ini wanita Indonesia bisa belajar baca tulis, sekarang sudah berkerja bahkan bisa jadi atasan yang baik.
 Seorang kartini tidak dilihat dari penampilannya namun dari perjuangannya. Dalam foto ini adalah seorang kartini. Beliau berjuang, menggarap sawah untuk keluarganya. Sebuah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh seorang priapun beliau lakukan sendiri. Pekerjaan dalam gambar ini tidak mudah karena harus didorong dan ditarik terus, sehingga rumput kecil yang dilewati tercabut hingga keakar. Seorang ibu tani bukan hanya mengerjakan hal ini namun juga memanen, menanam dan merawat sawahnya sendiri. Pekrjaan yang tidak dia lakukan hanyalah mencangkul dan membajak. Membajak harus menggunakan bajak, sedangkan tidak semua orang memilikinya. Jaman sekarang sudah jarang sekali bajak dengan sapi, dengan alasan untuk membuat sapi membajak itu tidak mudah.

beliau ini dulunya bekerja disebuah perusahaan kain, namun saat lengsernya Bpk. Soeharto beliau terkena PHK. Untuk terus menghidupi anak-anaknya beliau sekarang berusaha bertani dengan sebaik-baiknya. Pekerjaan disawah kesemuanya dikerjakan sendiri kecuali mencangkul dan membajak.   Semangat yah bu, semoga kelak anak-anakmu mampu memberikan penghidupan yang layak.

Nah loh siapa lagi ini?
Beliau ini adalah seorang nenek yang tangguh. Tidak diketahui usianya berapa tapi beliau bercerita tentang penjajahan belanda. Hal ini diartikan sat penjajahan belanda beliau sudah cukup besar sehingga mampu mengingat masa itu dengan utuh. Beliau ini seorang nenek yang tangguh dibalik usianya yang sudah tua dan rambutnya yang berwarna putih semangat masih membara. Beliau masih mengerjakan pekerjaan sendiri termasuk bertani.

Sekitar 3 minggu yang lalu beliau malah mencangkul sendiri disawahnya. Menurut beliau jika menyuruh orang untuk melakukannya, hasil panen tidak cukup untuk dimakan sampai panen lagi. Setelah kabar kenaikan BBM harga membajak sawah, mencangkul dan lainnya naik drastis hingga 30% sedangkan harga beras dan gabah turun drastis hingga 10%. Kemarin sudah jual setengah hasil panen namun hanya cukup untuk bayar membejak sawah dan beli pupuk sedangkan sisanya untuk makan setiap hari.

Wah jadi sedih nie dengarnya, Tuh kan jadi nangis lagi. Seorang yang tangguh mulai dari masa mudahnya terus bertani dengan giat hingga masa tuanya. Beliau juga bercerita pada jaman dahulu kalau mau makan harus kerja dulu. Dipagi hari saat sehabis subuh harus pergi kehutan atau ke persawahan untuk mencari bekas orang panen jagung ataupun ketela pohon untuk dimakan siangnya. Menyusuri persawahan untuk mencari sisa panen orang, sesampainya dirumah masih harus memasaknya dan baru makan. Untuk memasak jagung yang didapat masih harus menggiling di penggilingan batu dan memasaknya tanpa campuran beras, ini baru yang dinamakan nasi jagung atau nasi gerit. Kalau sekarang nasih jagung itu dicampur dengan nasi putih biasa/ Untuk lauknya juga seadanya, mencari dedaunan atau bahkan mencari kepiting sungai (yuyu). Jaman dahulu untuk menahan dahaga mengambil rumput lamur disawah, mengunyahnya dan membuangnya lagi. Yang diambil dari rumput lamur itu hanya airnya saja. Namun lihatlah seorang nenek ini dengan makanan yang seadanya malah lebih kuat dari seseorang yang lebih muda dengan kehidupan serba instant.

Seperti ini kah yang dinamakan Kartini, perjuangan tanpa batas hingga akhir hayat.

7 komentar: