Rabu, 02 Mei 2012

Sisa Cahaya

Posted by Haf Sari 16.01, under | 1 comment

Hidupku bagai sebuah lilin yang menerangi ini ruangan. Usiaku masih 13 tahun namun bibiku menyuruhku untuk menikah. Sesungguhnya aku menolaknya, namun apalah daya tangan tak sampai. Pernikahan itu terjadi dan aku memiliki 2 orang putri. Suamiku tak mau berkerja dan setiap hari menyuruhku meminjam beras kepada bibi. Aku tak sanggup untuk terus membebani orang tua. Dalam keadaan hamil tua, aku menahan lapar, dari pada aku harus meminta-minta. Saat anak keduaku lahirpun, tak memiliki uang untuk akikahnya, suamiku kegunung dan hanya membawah daging rusa. Semakin hari semakin hidup ini menyiksa, tak lama kemudian akhirnya kami bercerai. Sebuah perjalanan yang begitu sulit bagiku mengurus dua orang anak sendirian.

Aku berkerja disebuah pabrik, untuk hidup kami, anakku yang kedua masih berusia 6 bulan. Ku berjalan menyusuri jalan dipagi dan sore hari. Ku berfikir ongkos untuk naik ojek ke pabrik bisa digunakan untuk jajan anakku. Subuh ku berangkat dan maghrib ku pulang. Anakku tumbuh bersama bibi, beliau yang menjaga anak-anakku. Aku berharap anakku akan hidup lebih baik dariku kelak. Saat anak keduaku menginjak sekolah SD dia dilanda sakit hingga lumpuh, entah apa salahku hingga semua ini terjadi. Aku hanya bisa menjaganya dimalam hari. Dokter menyuruhku membawa pulang anakku, Aku bertanya padanya "apakah anakku sudah sembuh?". Namun sang dokter menjawab "Anak ibu tidak ada harapan untuk sembuh". Bagai petir disiang bolong yang menyambar tubuhku dan membuat dunia menjadi gelap.

Aku membawa anakku pulang dan merawatnya dirumah. Setahun kemudian mukjijat dari Allah datang, anak keduaku sembuh dan bisa berlari kembali. Anak pertamaku sekarang menjadi seorang guru SD walaupun belum menjadi PNS sambil kulia lagi. Anak keduaku tidak kuliah karena memang tidak ada biaya. Untuk kuliah anak pertamaku saja begitu sulit perjuangan kami. Anak keduaku sekarang mulai belajar Internet, mungkin ini adalah bakatnya. Sejak dia SMP sudah minta dibelikan komputer. Tapi dari mana uang itu, sekarang dia sudah bisa membelinya sendiri dan menjadi Blogger newbie  katanya. Bagai lilin nyalaku sudah redup, hanya tinggal sedikit cahaya dalam cumpuk. Namun inilah perjuanganku untuk anak-anakku, aku harap Allah memberikan mukjijatnya agar anak-anakku menjadi orang yang sukses.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes “Blogger Kartinian” bersama 21BloggerKartini


Sosok kartini bagiku, menurutmu??

1 komentar: