Rabu, 09 Mei 2012

Truk perjuangan

Posted by Haf Sari 06.30, under | No comments


Pagi yang cerah
waktu terus berputar
aku berlari mengejar
kadang aku tertinggal
aku hanya bisa terdiam
kembali pulang
kadang di pagi itu
aku harus termangu
menanti merah datang
namun tak ada
membawa kami jauh
mencari yang kami mau




Sebuah truk berwarna merah yang aku sebut sebagai truk Perjuangan. Ini adalah sebuah truk yang membawaku dan kurang lebih 60 wanita lainnya. Kebanyakan meraka adalah ibu-ibu dan yang masih lajang bisa dihitung dengan jari. Sebuah truk yang membawa wanita-wanita ini untuk berjuang mencari penghasilan untuk keluarganya.

Dulu kami tidak naik truk, tapi naik kaki kita sendiri-sendiri. Suatu saat perusahaan tempat kami bekerja di grebek oleh petugas bea cukai, karena memang perusahaan tempat kami bekerja ilegal. Aku tidak tahu kronologisnya karena saat itu aku sedang sakit sehingga tidak masuk kerja. Siang itu bibiku telfon, besok jangan masuk kerja, ini sekarang kita semua sedang lari kepersawahan untuk menghindari petugas bea cukai. Para karyawan berhasil kabur walaupun harus jatuh bangun melewati persawahan. Namun naas, rokok tidak dapat di bawa kabur, petugas bea cukai telah berada di depan pintu gerbang satu-satunya. Mobil Box yang membawa rokok tidak bisa keluar, rokok yang di sembunyikan dibawah semak belukarpun tertiup angin sehingga mereka mengetahuinya. Akhirnya perusahaan ditutup, banyak ibu-ibu yang meratap dengan kejadian ini, mereka bingung mau bekerja apa lagi.

Sebulan kemudian diberitahukan masuk kerja, kami di jemput dengan mobil Box, didalam mobil Box kami harus berdiri dengan menunduk selama perjalanan, karena jika duduk tidak muat. Satu jam perjalanan dilalui dengan menunduk, kami berkerja kembali disebuah perusahaan yang sama namun tempatnya di Gunung Gangsir. Dua bulan dilalui dengan naik mobil Box, terkadang ada yang pingsan karena kekurangan udara. Inilah perjuangan seorang wanita demi anak-anaknya, mereka tid`k mau menggantungkan semua kepada suami, Meraka mau anak-anaknya tetap makan dan sekolah.

Sekitar Sebualan kami di antar jemput mobil Box, kemudian disewakan sebuah mobil pick up. Bisa dibayangkan, lebih dari 60 orang naik dalam satu mobil pick up. Begitu besar perjuangan wanita-wanita ini mempertaruhkan nyawa demi keluarganya. Paling depan berpegangan berbaris kebelakang, yang lainnya langsung masuk saja dengan berpegangan kepada teman yang lain, paling pinggir sendiri duduk di pembatas mobil. Jika dilihat seperti bunga yang sedang mekar, namun bisa dibayangkan mereka ini manusia, sungguh berbahaya. Tak jarang kita semua harus kehujanan dimalam hari, karena memang tidak ada atapnya. Sebuah perjuangan seorang Ibu tanpa batas, tak heran jika surga berada di telapak kaki Ibu.

Sebuah mobil pick up membawa muatan melebihi standart maka sering sekali mengalami masalah, entah ban pecah sampai mogok.Sekitar enam bulan kami menjalani hal ini, yang akhirnya si pemilik mobil menyerah. Kembali lagi kami diangkut dengan mobil BOX yang begitu pengap, aku tak tega dengan seorang ibu yang sedang hamil tua, beliau duduk dipojok box dengan keringat yang bercucuran. Begitu berdesak-desakan sehingga aku harus berdiri di atasnya, karena memang tak ada tempat lain lagi. Akhirnya truk perjuangan datang membuat sedikit perubahan.

Walaupun semua orang menganggap kami kambing, setiap ada orang dipinggir jalan yang kami lewati mereka selalu berseru "mbek,mbek,mbek", namun inilah hidup. Para Ibu-Ibu ini tak menghiraukan, namun paling menyakitio hati mereka adalah jika seorang anak kecil yang berseru "mbek,mbek,mbek". Seorang Ibu berkata, anakku sebesar itu, kenapa dia berkata seperti itu? padahal kami seperti ini demi mereka.

0 komentar: