Senin, 16 Juli 2012

Menjadi Matahari atau rembulan

Posted by Haf Sari 10.00, under | No comments




Pada suatu hari dalam kesunyian siang yang kadang membingungkan. Kemarin dia sms padaku, dalam sms itu dia berkata "haf besok kamu ada di rumah atau tidak?". 

"Setiap hari aku selalu di rumah, maklum seorang pengangguran", balasku

"Kamu itu memang tidak pernah berubah, masih tetap bercanda saja ",dia membalas.

"Bercanda bagaimana, buktinya aku berada di rumah terus, jika tidak percaya, kerumah saja, terserah jam berapa atau hari apa", aku melanjutkan.

"Baiklah, awas kalau tidak ada yah". , Balasnya

"Siap", menutup pembicaraan

Dua hari selanjutnya, temanku kerumah. Akhirnya kami ngobrol seperti layaknya teman lama yang baru bertemu. Dalam kesempatan ini temanku membawa serta anaknya. Di tengah pembicaraan dia nyeletuk "kapan kamu nikah?". Sebuah pertanyaan yang paling aku benci. Bukan berati aku tidak memiliki rasa cinta, tapi aku merasa tidak ada yang mencintaiku. Aku juga tidak menutup hati bagi semuanya, justru malah membuka seluas-luasnya, karena aku juga tidak tahu siapa jodohku. tapi pertanyaan ini kadang aku jawab secara slengean.  "Siapa coba yang mau dengan cewek jelek, pengangguran juga". Tapi temanku berkata "kamu itu yah, berada di rumah terus mana ada yang tahu sama kamu. Sebenarnya bukan karena aku seperti itu, aku sering keluar rumah dan berkelompok. Tapi aku seseorang yang lebih suka, dengan seseorang yang mengenalku apa adanya. Saat itu aku langsung bertanya padanya? "Jika ada sebuah pilihan antara bulan dan matahari, kamu maunya jadi Matahari atau bulan?"

Tanpa berfikir panjang dia langsung menjawab " Bulan dong"
Kenapa kamu memilih bulan? "sahut ku"
Bulan itu indah, banyak yang suka, menjadi lambang cinta.  "sahutnya"
Dia berhenti sejenak dan kemudian bertanya kembali "Memang maksudnya Matahari dan bulan itu apa?"
Aku menjawab, bukan maksudku menggurui kerena Peyan jelas lebih berpengalaman dan dewasa. Aku hanya mau menjelaskan posisiku sekarang. 
Dia diam sambil manggut saat aku melihat padanya.
Aku melanjutkan ceritaku.
Gambaran bulan di fikiranku kali ini adalah saat kita di kagumi dan disayangi karena kehebatan orang lain. 
Maksudnya "sahutnya, seraya tidak sabar mendengar penjelasanku"
Saya berikan contoh, aku seorang pemilik perusahaan dan kamu adalah seorang petani yang tidak mengetahui apapun mengenai usahaku. Kemudian aku kadang mengajakmu saat bertemu dengan relasi ataupun anak buahku. Dari sini kamu berkenalan dengan mereka dan kamu di kenal sebagai sahabat baikku. Dari hal itu secara otomatis kamu menjadi terkenal, dan mereka berbondong-bondong mendekatimu, demi mendapatkan kelancaran bisnis denganku. Awalnya kamu senang dengan hal itu, karena dengan seperti itu kamu memiliki banyak teman dan banyak sanjungan. Setiap relasi atau anakbuahku selalu bertanya padamu mengenai perkerjaan di perusahaanku, memintamu untuk bertanya padaku demi kelancaran kepentingan mereka. Jika kamu senang dengan hubungan dengan teman-temanku yang selalu menanyakan tentang pekerjaan denganku padamu, berati kamu bulan. Bulan dikagumi, disanjung dan disukai karena cahaya dari Bintang disekitarnya. Bulan akan terlihat Indah jika ada bintang di sampingnya.

Matahari disini jika kamu menolak permintaan teman-temanku, jika bertanya mengenai kelancaran usaha denganku kepadamu. Kamu hanya ingin punya teman sejati yang menghargai dan setia karena prestasimu. Memang sulit orang suka, walaupun pada kenyataannya merekah butuh, jika kamu redup. Matahari tidak pernah mendapatkan bantuan cahaya dari di sekitarnya, justru matahari menyinari setiap orang walaupun kadang orang menolaknya, mengeluh dengan panasnya. Matahari tidak pernah menyerah, dia selalu setia, tersenyum menyapa semua orang terutama untuk orang terdekatmu.

Seperti itulah pandanganku pada setiap temanku. Saat aku butuh sesuatu, tidak ada yang menanggapinya. Namun saat seorang hebat menyapaku, disitu semua orang mulai mendekatiku. Itulah hidup, sekarang hidup kita sedikit berubah, aku banyak dalam dunia maya, tapi kamu lebih menonjol di dunia praktek. Tapi kondisimu dan aku sangat berbeda, kamu lebih beruntung dengan mendapatkan suami yang benar-benar mencintaimu, walaupun semua itu butuh perjuangan untuk memperjuangkannya. Sedangkan aku, tidak ada yang perlu di perjuangkan kecuali aku dan keluargaku.

Apakah jodoh seperti itu yang kamu harapkan untuk temanmu ini? kalau soal teman banyak dimanapun, tapi yang benar - benar tulus itu jarang. Mungkin kita kadang silau dengan buai kepalsuan. Dan teman sejati yang buat kita bangkit pada akhirnya...

0 komentar: