Minggu, 26 Agustus 2012

Dunia di balik Lorong

Posted by Haf Sari 11.15, under | 2 comments



Teringat olehku disiang itu. Aku mengendarai sebuah motor milik orang tuaku. Sebuah motor berwarna merah, terlihat indah karena terawat dengan baik. Aku mengantar adikku untuk berkunjung kerumah guru-gurunya. Hari raya yang tak pernah aku bayangkan seperti ini. Aku mulai menyusuri lorong-lorong kota yang penuh dengan bangunan angkuhnya. Menemui temannya dan ia tinggalkan aku sendiri di jalan itu. Teringat olehku pesan Ayah "Jangan kamu tinggalkan adikmu". Aku tetap menunggu adikku duduk di atas sepeda merah itu, walaupun dia berharap aku pulang. Sebuah jalan yang sepi, jalanan terlihat begitu lengang dan tak ada jalan lagi selain jalan setapak.

Detik demi detik berdetak meninggalkanku di sana. Ku terus melihat menit yang berjalan menjauh dan semakin jauh. Terlihat olehku sebuah mobil akan melintas. Ku lihat jalan di sekelilingku, Ah ternyata tidak cukup. Aku berusaha menepikan motor dan ku miringkan agar mobil itu bisa melintas dengan baik. Syukurlah tak terjadi apapun, mengingat aku satu tahun terakhir tidak pernah mengendarai motor lagi. Terdengar suara adzan Duhur berkumandang, akupun terkejut dan terbelalak saat melihat tulisan Mushollah di dinding sampingku. Subhanalloh, aku berlindung di rumahmu ya Allah.

Dua jam berlalu, terlihat adikku berjalan menghampiriku di jalan yang sama. Syukurlah, usai sudah penantianku, kini waktunya untuk kembali ke rumah ( dalam benakku). Apa yang terjadi? Adikku memintaku untuk mengantarkanya masuk ke jalas setapak itu mengikuti teman-temannya. Laju motor berhenti saat jalan itu tak mampu lagi di lewati sebuah motor. Adikku berlari mengejar teman-temannya, dan aku di sini sendiri menantinya. Kutepikan motor merah di samping pagar itu dan aku duduk di atasnya.

Setengah jam kemudian terdengar suara sebuah motor, sepertinya akan melintas. Aku bergegas memindahkan motorku ketempat yang lebih lapang dan tidak menghalangi jalan. Tepat di depan sebuah rumah aku memarkirkan motor merah itu. Rumah itu terlihat sepi dan tak terdengar sedikitpun suara dari dalam, walaupun aku berhenti tepat di depannya. Aku turun dari motor itu dan duduk di teras rumah. Setengah jam kemudian terlihat seorang penjual aksesoris melintas dan menawarkannya padaku. Aku menolaknya dan kembali duduk dengan tenang. Orang itu berjalan masuk sebuah lorong samping rumah tempatku duduk dan terlihat berjajar kran di dinding itu.

Aku melihat ke atap dan sekeliling. Tetap terlihat seperti rumah biasa dan hanya ada sebuah pengeras suara di atap rumah. Aku penasaran untuk melihat kedalam lorong itu. Akhirnya aku berdiri dan menghampiri lorong. Kulihat, terbelalak mataku melihatnya. Dibalik lorong kecil itu subhanallah, ada dunia. Luas sekali ternyata di balik lorong sempit yang hanya bisa di lewati satu orang ini. Aku mulai sadar, rumah sepi tempatku bertedu adalah Mushallah. Subhanallah, kembali aku hanya berlindung kepadamu Ya ALLAH.

Dari kejadian ini aku menyadari, dibalik semua keterbatasan, ketidak mampuan ada peluang yang sangat besar. ALLAH maha tahu segalanya, aku seakan putus asah dalam mencari rizky darinya. Berbagai jalan dan cara telah ku tempuh, tapi hasilnya tetap saja nol. Namun Allah menunjukan dan memberi semangat padaku untuk tetap berusaha, di balik jalan yang sangat sempit ada harapan yang luas, ada peluang terbuka lebar.

Apapun yang terjadi jangan sampai kehilangan semangat, karena semangat membuat hidupmu lebih berwarna dan berarti.

2 komentar: