Minggu, 18 November 2012

Sosok Pahlawan tanpa tanda jasa

Posted by Haf Sari 09.00, under | 4 comments

Kasi ibu kepada Beta tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sangsurya menyinari dunia..
Sebuah lagu yang membuatku terus tertunduk sedih saat menyanyikannya. Begitu besar jasanya bagi diriku sejak kecil. Apapun yang aku lakukan untuknya, selamanya tidak dapat menggantikan jasanya.

Debur ombak memecah kesunyian
kesunyian malam yang mencekam
angin meliuk-liuk bagai berbisik
membuat hati tenang terusik
Aku terdiam dalam alam nyamanku
nyaman dalam pelukmu
pelukan yang selalu kurindu
menghilangkan pilu dalam jiwaku
Akupun sedih dan akupun gunda
Apa yang harus aku lakukan
hanya untuk membuatmu nyaman
nyaman seperti yang kau berikan
Aku menghormatimu sebagai pahlawanku
Pahlawan yang tak mungkin aku lupakan
Aku menyayangimu dan menghargaimu
Menyayangi dan menghargai karena kau berharga
berharga lebih dari diriku
diriku yang tanpamu tak kan ada.


Buatku Pahlawan tidak harus berperang. Ada beberapa alasan seseorang di sebut Pahlawan. Berikut contoh pahlawan wanita yang beberapa dari mereka di sebut Pahlawan walaupun tidak berperang.
10 Pahlawan Wanita Aceh
  1. Ratu Nahrasiyah merupakan puteri dari Zainal Abidin Malik az-Zahir. Dikenang dan makamnya di istimewakan karena kepemimpinannya sebagai seorang ratu.
  2. Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1675) Putri pertama Sultan Iskandar Muda. Sang suami meninggal tanpa memiliki keturunan sehingga terjadi perselisihan pendapat. Namun pada akhirnya para ulama mengeluarkan fatwa urusan agama dan negara harus dipisahkan sepanjang keduanya tidak saling bertentangan.
  3. Ratu Inayat Zakiatuddin Syah. Saat masa kejayaannya Inggris telah berdagang di Aceh dan meminta ijin untuk membuat benteng pertahanan. Saat itu Ratu tidak mengijinkannya, Inggris boleh berdagang namun tidak boleh memiliki benteng sendiri.
  4. Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah. melukakan perubahan terhadap Undang Undang Dasar Kerajaan Aceh dan Adat Meukuta Alam. Aceh dibentuk menjadi tiga federasi yang disebut Tiga Sagi (lhee sagoe). Pemimpin Sagi disebut Panglima Sagi. Untuk sekarang di sebut system pemerintahan otonomi daerah.
  5. Ratu Kamalat Zainatuddin Syah. Pada masa pemerintahannya terdapat sebuah pertentangan mengenai pemerintahan yang di pimpin oleh seorang wanita. Kesitegangan tersebut membuatnya turun tahtah karena keputusan dari Mekkah bahwa pemimpin Perempuan bertentangan dengan syariat.
  6. Laksamana Malahayati atau “Keumalahayati”. Seorang panglima perang, membentuk pasukan Wanita yang terdiri dari para Janda perang. Pasukan wanita ini di sebut Armada Inong Bale . Beliau merupakan masih keturunan Sultan Salahuddin Syah yang memerintah tahun 1530-1539. Sultan Salahhuddin sendiri putera Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530) pendiri kerajaan Aceh Darussalam. Beliau di sebut Pahlawan karena kesuksesan memimpin pasukan Wanita.
  7. Cut Nyak Dien. Nama Cut Nyak Dien bagai sebuah legenda. Setelah suaminya, Teuku Umar meninggal, ia memilih melanjutkan perjuangan bersenjata dengan pilihan : hidup atau mati di hutan belantara daripada menyerah kepada Belanda. Ia membiarkan dirinya menderita dan lapar di hutan sambil terus dibayangi oleh pasukan marsose Belanda yang mengejarnya. Adakalanya ia berminggu-minggu tidak menjumpai sesuappun nasi, makan apa saja ditemui di hutan. Ia melakukan itu selama 6 tahun. Ketika itu ia sudah tua dan matanya rabun. Sudah selayaknya Cut Nyak Dien di sebut Pahlawan karena perjuangannya.
  8. Cut Meutia. Cut Muetia lahir tahun 1870. Ayahnya, Teuku Ben Daud, seorang uleebalang Pirak yang setia terhadap Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah. Ibunya bernama Cut Jah. Ia mempunyai empat saudara laki-laki. Seorang pahlawan perang yang meninggal dengan satu peluruh di kepala dan dua peluru di tubuhnya.
  9. Pocut Baren. Pocut Baren lahir di Tungkop. Ia putri seorang uleebalang Tungkop bernama Teuku Cut Amat. Daerah uleebalang Tungkop terletak di Pantai Barta Aceh. Suaminya juga seorang uleebalang yang memimpin perlawanan di Woyla. Pocut Baren merupakan profil wanita yang tahan menderita, sanggup hidup waktu lama dalam pengembaraan di gunung dan hutan belantara mendampingi suaminya. Ia disegani oleh para pengikut, rakyat dan juga musuh. Ia berjuang sejak muda dari tahun 1903 hingga tahun 1910.
  10. Pocut Meurah Intan. Ia seorang pejabat bea cukai pelabuhan yang gigih menantang kehadiran Belanda. Kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti terhadap Belanda adalah Pocut Meurah Intan. Ia bercerai dengan suaminya karena Tuanku Abdul Majid menyerahkan diri kepada Belanda. Lalu ia mengajak anak-anaknya terus berperang.

Dari kesepuluh Pahlawan wanita Aceh, Ibuku merupakan pehlawan dalam keluargaku. Perjuangannya untuk menafkahi anak-anaknya, menyekolahkan hingga memberikan kasih saying. Bagiku ia adalah seorang ibu dan juga seorang ayah. Jika para pahlawan aceh mampu bertahan untuk berperang, maka ibuku mampu bertahan akan kerasnya kehidupan. Siang hari harus berkerja dan ia ikhlaskan waktu siangnya untuk tidak bertemu anak-anaknya. Ia korbankan waktu istirahatnya untuk menemani anak-anaknya hingga terlelap.

Jadi seorang pahlawan bukanlah harus memakai title pahlawan dan di sebut Pahlawan. Tapi pahlawan adalah seseorang yang telah berjasa bagi kita maupun bagi orang lain. Berbeda pendapat boleh, tapi sudahkah engkau melakukan sesuatu yang membuatmu menjadi seorang pahlawan. Pahlawan tidak harus pahlawan Negara tapi bisa juga pahlawan rumah tangga. Jadilah diri sendiri dan raihlah masa depan dengan cemerlang, Mulailah aksimu dari diri sendiri untuk indonesia, kita mulai dari hal yang paling sederhana, untuk adik-adik yang masih sekolah belajarlah yang rajin dan rajutlah kreatifitas positif. Jadilah Pahlawan untuk orang tuamu dengan prestasi gemilang.


4 komentar: