Kamis, 03 Januari 2013

Arak-arak kemanten pria Jawa

Posted by Haf Sari 00.30, under | 1 comment


Arak-arakan kemanten pria menuju rumah penganten wanita banyak sekali yang di perlukan. Jika jaman dahulu acara lamaran di lakukan sebelum pernikahan namun sekarang di laksanakan bersamaan saat iring-iringan kemanten. Jadi saat iring-iringan kemanten barang bawaan cukup banyak. Adat Jawa untuk penganten Pria menuju rumah pengantin wanita harus membawa Jodang dan sampil. Jodang merupakan sebuah peti yang berisi berbagai makanan tradisional yang di tandu oleh dua orang lelaki di belakang pengantin pria. Sampil sendiri terdiri dari kayu bakar, alat memasak, beras dan lainnya yang berhubungan dengan kebutuhan dapur. Sampil dan jodang sendiri berarti bahwa Pria memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah dan mencukupi segala kebutuhan istri dan keluarga. Jangankan beras, kopi, gula, terasi, kelapa, kipas, dan lainnya juga termasuk dari isi sampil. Dari kebutuhan pokok sampai kebutuhan paling sepele. Sedangkan untuk lamaran terdiri dari alat rias dan juga pakaian.

Perkembangan jaman membuat semuanya berubah. Iring-iring penganten selalu di iringi dengan musik terbang gandul yang melibatkan bedug dan lainnya. Namun sekarang sudah sangat jarang, walaupun masih ada yang melestarikan namun banyak yang lebih memilih di iringi drum band. Seserahan lamaran bersamaan dengan iring-iringan kemanten. Sedangkan jodang dan Sampil juga tidak ada. Hanya sebagian kecil orang jawa yang masih melestarikannya. Kembang mayang, sekarang di beri uang kertas pecahan Rp 1000 sampai Rp 5000. Prosesi serah terima penganten, injak telur, basuh kaki hingga gendong dan dorongan orang tua mengiringi prosesi pernikahan Jawa.

Ayam jago. Ayam jago di bawa untuk di serahkan pada saat iring-iringan kemanten. Tapi terkadang tidak hanya membutuhkan atu ekor ayam jago. Ayam jago di perlukan dua atau lebih sesuai dengan jumlah sungai yang di lalui oleh pengantin pria. Ayam yang di bawah sesuai jumlah sungai menuju penganten wanita di sebut Ayam sabrang sungai. Ayam di buang ke sungai, namun terkadang juga di berikan kepada orang di sekitar sungai agar lebih bermanfaat di bandingkan di buang dan mati. Beda daerah, beda adat. Sebagian juga menggunakan anak ayam yang sudah setengah besar sebagai petek sabrang kali. Ayam kemudian di berikan kepada nenek-nenek yang di temui dalam perjalanan.

Berbagai cara di lakukan untuk memeriahkan acara perkawinan yang hanya di lakukan sekali seumur hidup. Belakangan muncul kembali pertunjukan-pertunjukan tradisional. Jawa berbau mistis. Pertunjukan tradisional bantengan, puncang kanong hingga kuda lumping memeriahkan acara. Pertunjukan bantengan, pucang kanong, caplokan dan kuda lumping yang sarat akan mistis. Melibatkan pemanggilan setan dan menyan. Tak jarang para pelaku kesenian harus terluka dan mengeluarkan banyak darah untuk satu kali pertunjukan. Bagaimana tidak, saat mereka melakukan pertunjukan, mereka sedang tidak sadarkan diri. Seperti sedang bermimpi, terjatuhpun tidak terasa sakit. Memakan ayam dan meminum darah ayam yang masih hidup, mereka juga tidak sadar. Suka kasihan melihat mereka yang memakan dan meminum darah ayam hidup, setelah sadar kebanyakan muntah-muntah. Tapi tidak semuanya seperti itu. Sebagian perguruan meniadakan atraksi makan ayam hidup dan sebagian lagi menyembelih ayam terlebih dahulu agar halal di konsumsi.


1 komentar: