Jumat, 16 Agustus 2013

Menembus jarak bertabir, Nekad Traveler

Posted by Haf Sari 12.42, under | 2 comments


Suasana cerah, matahari berbinar. Bagaikan burung di dalam sangkar. Setiap pagi aku berjalan kaki menuju tempat kerja. Menyusuri jalan setapak di tepi sungai, melewati jurang di atas sungai Talang Abang bersama ibuku. Berkerja di sebuah perusahaan rumahan bergerak di bidang penyortiran plastik bekas. Kami adalah buruh sortir dan cuci plastik bekas. Aku salut dengan semangat dan kemauan ibuku untuk mengumpulkan recehan. Sesampai di tempat kerja kita langsung membela pelastik menjadi lembaran, mengumpulkan sekitar dua hingga 5 karung. Dengan sigap ibuku membawa pelastik dalam karung berjalan menyusuri jalan setapak di tepi sawah menuju saluran irigasi untuk mencuci plastik-plastik itu. Melihat semangat ibuku berkerja, akupun ikut bersemangat. Menjemur di tepi-tepi jalan pelastik itu dan membawa ketempat kerja setelah kering. Hari demi hari aku lalui bersama ibuku, terik matahari tidak lagi terasa panas mengingat uang recehan yang kita dapatkan. Rp 300 upah yang kita dapat per kilo pelastik kering dan bersih. 

Akupun berfikir, apakah aku akan terus seperti ini ?? Satu minggu aku hanya dapat mengumpulkan Rp 25.000 yang habis tanpa bisa menabung itupun tidak pasti. Aku tamatan SMK, tak adakah pekerjaan yang lebih baik bagiku?.. Aku berfikir dan berfikir. Aku harus ke rumah nenek, disana ada saudara ibu yang bisa membantuku. Tapi sesuatu yang mustahil bagiku, jarak yang jauh tanpa uang di kantong
Suatu malam aku bilang pada ibu, " Aku mau kerumah nenek besok pagi ". Ibu berkata : Apa kamu punya uang?. Sudahlah bu, ijinkan aku pergi, aku akan jalan kaki kesana, tandasku. Ibupun mengijinkanku kerumah nenek pagi itu. Seperti biasa aku berangkat bersama ibu yang akan berkerja menyusuri jalan setapak dan jurang. Di sebuah pertigaan, aku berpisah dengan ibu. Aku mulai berjalan menyusuri jalan yang tidak biasa aku lewati, aku hanya mengambil jalan setapak. Saat aku melintasi jalan raya, aku buru-buru mencari jalan pintas. Menyusuri jalan di desa-desa asing bagiku. Tanpa ragu, aku terus berjalan walaupun beberapa kali aku menemui jalan buntu dan memutar, tapi itu tidak menyurutkan semangatku. Perjalanan paling nekad yang pernah aku jalani seumur hidupku.

Aku terus berjalan melewati jalan setapak di tengah desa Pager dan melewati persawahan yang tembus ke desa Madu Legi. Ya, mungkin desa-desa itu sudah pernah aku lalui, namun kali ini bertambah berat karena tidak melewati jalan raya. Aku menyeberang jalan raya menuju desa Madu Legi wetan. Dahaga menghampiri, padahal aku tidak memiliki uang sepeserpun dan tidak memiliki air minum. Aku terus melanjutkan perjalanan tanpa beristirahat, yang aku tuju adalah lapangan Finna Golf dekat desa nenekku. Daerah yang aku kenal, daerah sekitar lapangan Finna Golf. Dari desa Madu legi aku harus mengikuti jalan setapak ke arah timur. Aku berjalan terus melewati beberapa desa yang aku tidak ketahui desa apa itu. 

Akhirnya aku melihat tulisan Finna Golf besar dari kejauhan. Seingatku desa seberang lapangan Finna Golf adalah desa Gambiran, tapi akupun hingga kini tidak tahu secara pasti desa apa yang aku lewati saat itu. Aku berusaha mencapainya dengan melintasi persawahan, tapi yang ku dapatkan adalah jalan buntu. Aku hingga berputar 2 kali di tempat yang sama dekat pemakaman, namun tetap saja jalan buntu. Aku masih berusaha mencapai tempat itu, namun tidak tahu jalan yang benar. Aku tidak dapat bertanya pada siapapun, karena di sana aku hanya seorang diri. Akhirnya aku berjalan memutar menuju persawahan dan itupun jalan buntu, dengan sungai besar dan curam penuh semak belukar.

Tapi, aku hanya punya satu pilihan yaitu melanjutkan perjalanan. Ku serahkan hidupku pada ALLAH, aku turun ke sungai curam itu, berpegangan pada semak belukar sambil menjatuhkan diri. Saat itu sedang musim kemarau sehingga air sungai kering. Aku telah berada pada dasar sungai, namun aku masih harus bisa naik kesebrang sungai sedangkan benar-benar tidak ada jalan kecuali tebing penuh semak-semak. Aku melepas alas kaki agar tidak terpeleset, tebing terlihat basah dan licin. Aku mulai memegang semak-semak sambil memanjat tebing. Kuasa ALLAH aku selamat sampai atas tebing dan tidak menemui suatu halangan yang berarti. Sebenarnya saat itu yang aku takutkan adalah bertemu ular di semak-semak. Aku melanjutkan perjalanan melewati persawahan sambil sesekali melihat arah lapangan Finna Golf. Dan akhirnya aku sampai di lapangan Finna Golf, senyumpun mengembang karena berarti perjalananku tinggal sedikit lagi dan aku semakin bersemangat berjalan menuju rumah nenekku.

Ini adalah perjalanan paling Nekad yang pernah aku lakukan. Dari desa Pandansili, kecamatan : Pandaan  menuju Desa : Wiilo, Kecamatan : Prigen di tempuh tanpa uang, tanpa bekal apapun, tanpa istirahat dan hanya dengan berjalan kaki di jalan setapak beberapa desa. Buat kamu nekad Traveler, ceritakan pengalaman perjalanan paling nekad kamu dan tonton vidio Nekad traveler telkomsel berikut ini :

Mungkin kalian tidak percaya ini benar-benar aku lakukan, tapi ini pengalaman beberapa tahun yang lalu sebelum aku mengenal dunia blogger.

Visit : http://telkomsel.com/nekadtraveler

2 komentar: