Senin, 17 April 2017

Minpi setinggi langit

Posted by Haf Sari 21.21, under | No comments

Mimpi setinggi langit, seperti halnya anak-anak lainnya. Hidup di desa dengan keluarga broken Home yang sederhana. Keluarga kecil, aku, ibu, nenek dan kakak. 4 orang perempuan tinggal di sebuah rumah. Sebagai 4 orang perempuan yang tinggal di rumah tanpa seorang laki-laki yang mejadi tulang punggung, aku melihat perjuangan ibu untuk memenuhi kebutuhan kami. Aku melihat setiap tetes keringat dan setiap kesakitan karena terlalu banyak berkerja.

Saat kami kecil ( aku dan kakak ), ibu pernah bertanya " Apa cita-citamu ? ". Kakak ingin menjadi seorang guru. Aku seorang yang polos, aku hanya ingin berkerja menjadi apapun itu yang penting halal agar ibu tidak perlu berkerja lagi. Sebuah mimpi setinggi langit yang hanya bayangan semu. Tanpa arah dan tujuan ingin menjadi apa ?.. Dulu hingga kini aku hanya berfikir, apa yang bisa aku harapkan dengan memperberat kerja keras ibuku ?

PHK masal ketika masa orde baru di gulingkan, Bpk Soeharto lengser menjadi Presiden merupakan masa yang buruk bagi keluarga kecilku hingga kini. Aku mengerti kecemasan ibu dengan masa depan kami ketika PHK dialami. Akupun tidak sepenuhnya menyalahkan keputusan ibu menikah lagi karena aku tahu sebenarnya ibu hanya memikirkan kami. Menikah dengan seorang pegawai negara yang memiliki penghasilan tetap menjadi pilihannya. Namun harapan tinggal harapan, keputusan itu justru membuat segalanya menjadi buruk.

Harapan ibu agar anak-anaknya bisa tercukupi dengan menikah kembali justru mejadi berantakan. Ibu berjualan snack, buah dan Es di sekolahan untuk membiayai sekolah kami karena ternyata biarpun suaminya pegawai negara namun tidak pernah memberikan uang. Beliau lebih senang membelikan sesuatu dibandingkan memberikan uang. berbagai cara aku lakukan untuk menghemat setiap rupiah yang aku miliki seperti berjalan kaki dan tidak membeli apapun saat beristirahat. Masa SMA aku ambil dagangan dari koperasi dan menawarkan ke warung di desaku bahkan berjualan minuman untuk mengganti uang ojek ke sekolah agar esoknya tidak perlu minta uang kembali.

Mimpi setinggi langit tak akan terwujud. Lulus sekolah diluar dugaan kemana-mana aku tidak mendapatkan pekerjaan. Agar aku tidak meminta uang ke Ibu untuk kebutuhanku, aku sampai menjadi buruh panen padi. Mengangkat padi beserta batangnya dan mengumpulkan menjadi satu. Sebuah beban yang lebih berat dari tubuhku yang kecil melewati sawah yang basa membuat langkah lebih berat. Perjuangan ini tidak seberapa di bandingkan perjuangan ibu membesarkan 2 anaknya.

Minpiku berkerja menghasilkan uang untuk meringankan beban ibu seakan sangat berat. Tekadku tidak pupus di situ, aku terus berusaha segala pekerjaan aku lakukan mulai buruh cuci plastik bekas sampai PRT. Mimpiku sesungguhnya sudah aku lakukan sejak baru lulus sekolah, hanya saja belum bisa mencukupi segala kebutuhan keluarga.

Aku terus berharap dan berdo'a kepada Allah agar Allah memberikan aku jalan Rizeki yang halal dan cukup untuk kehidupan kami. Aku juga berdo'a agar Allah memberikan aku Suami yang seiman dan sejalan agar cita citaku tercapai dan keluargaku menjadi keluarga yang bahagia Aamiin

0 komentar: