Selasa, 10 April 2012

Dibalik sakitku

Posted by Haf Sari 10.25, under | No comments

 
 Dalam foto ini adalah bapak kandungku. Selama bertahun-tahun lamanya dan sekian kali aku sakit baru kali ini ditungguin. Saat kecil aku pernah sakit parah, hingga harus dilarikan kerumah sakit, namun tak sekalipun terlihat menjenguk. Keterbatasan adalah kendalanya. Beliau selalu beranggapan bahwa beliau tidak memiliki apa-apa untuk membiayaiku dirumah sakit. Namun aku menghormatinya, beliau buatku seseorang yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Batapa tidak, setiap kali aku meminta do'a atau apalah buatku dan kakak selalu saja ia menjawab/ Untuk saat ini aku tidak bisa melakukannya karena sudah ada janji mendoakan orang lain atau sudah janji bekerja pada orang lain. Padahal demi anaknya sendiripun beliau tidak mau melakukannya. Kejujuran yang beliau pegang teguh hingga kini membuat hidupnyapun tak berubah. Tak pernah kata dusta terlontar. Entah apa yang ada dalam benaknya, kejujuran kadang malah menjadi bumerang baginya. Jiwa sosial dan kejujuran kadang di manfaatkan oleh orang lain. Aku kadang geram mendengar celotehan mereka memanfaatkan bapakku dan menertawakan kebodohan. Tapi itulah bapak, tak pernah satu pata kataku yang mampu menggoyahkan pemikirannya tentang kejujuran dan kesungguhan hati. Dibalik sakitku kali ini, aku baru merasahkan punya bapak. Bagaimana tidak, baru kali ini aku sakit dijenguk dan ditungguin. cckckckkckc

Beliau ini adalah nenekku. Seorang nenek yang telah merawatku sejak masih bayi. Menemani hari-hariku dan kakak saatemak ( ibu ) berkerja. Dibalik usianya yang tua terdapat kasih sayang yang luar biasa. Rambutnya boleh memutih dan matanya boleh meredup tapi semangatnya masih tetap membara. Mata kecil sayup yang masih bisa membuat hidupnya terang benderang menyaksikan dan menemaniku ngeblog. Nenekku ini menurutku aneh, kalau aku lagi main Game malah gak suka nemenin. Padahal kan seruan main game, gambarnya bisa gerak-gerak. Beliau selalu berkata, main Internetan saja biar bisa lihat semuanya. Kok jadi heran yach?? kalau aku ngeblog atau Internetan, yang terlihat hanya seabrek tuisan dan gambar tak bergerak. Nenekku ini walaupun sudah lahir sejak jaman penjajahan namun beliau bisa baca. Tidak jelas dari mana beliau bisa baca, karena pada kenyataannya saat nenekku kecil tidak ada sekolahan.

Ingatan nenekku masih sangat jelas hingga kini. Beliau sering bercerita saat masah penjajahan belanda nenekku hanya menggunakan karung goni sebagai pakaian. Jaman Nipon nenekku menyebutnya, dimana sebuah jaman kegelapan, tak ada cahaya yang dinyalakan saat peperangan. Walaupun keseluruhan warganya petani, namun sulit sekali mendapatkan beras untuk sekedar makan. Gula, merupakan barang yang paling mudah didapatkan. Namun gula tidak dapat dimakan. Pernah suatu saat nenekku menggunakan gula di campur dengan biji kapuk di goreng, karena tidak ada yang dapat dimakan jaman itu. Pada kenyataannya biji kapuk mengandung minyak seperti halnya biji jarak. Setelah makan, langsung mabuk. Pada jaman Nipon hasil panen selalu dirampas, hingga di sembunyikan dibawah tempat pembuangan celetong (berak sapi) masih tetap saja ketahuan. Betapa tidak ketahuan, kalau yang menjadi antek-antek adalah tetangganya sendiri.

Nenekku juga pernah bercerita pada masa G30SPKI. Ada seorang guru dan juga petinggi desa. Saat malam hari dijemput dan digelandang dari rumahnya. Dibawah kebawah pohon beringin disebuah sekolahan SD desa setempat. Mereka membunuh secara tidak manusiawi. Bukan hanya langsung digorok, namun memperlakukannya seperti menggorok Sapi. Dengan mengkeret lengan, kaki seakan ingin dikuliti seperti sapi dan menggorok rehernya. Digantung dipohon beringin, seperti menggantung seekor sapi saat setelah disembelih. Meninggalkan mayat tersebut tanpa menguburnya. Begitu tragis, namun tak diketahui apa penyebab mereka melakukan hal tersebut. Hingga kini keturunan dari pelaku G30S PKI masih ada didesaku. Namun kata nenekku, sesungguhnya semua itu telah mendapatkan balasan semasa didunia.


Kembali lagi pada cerita sebelumnya. Dalam foto ini adalah Emak (Ibu). Seorang ibu yang buatku adalah orang yang paling tangguh sedunia. Saat aku dan kakak masih kecil, beliau terus berkerja. Kalian tahu gak, beliau setiap hari pulang pergi kerja jalan kaki. Padahal jaraknya kurang lebih 3KM. Setiap hari berangkat jam 3 pagi dan sampai rumah sekitar jam 7 malam. Beliau dulu bekerja di sebuah perusahaan PT TRISTEK, sebuah perusahaan kain di luar kecamatan. Masa kelabu, saat lengsrnya BPK SOEHARTO sebagai presiden. Menjadi korban PHK, padahal hidup kami pada masa BPK SOEHARTO sangat makmur. Pekerjaan mudah didapat, bahan makanan tidak mahal, petani makmur karena biaya garap sawah juga tidak mahal seperti sekarang. Jika di bandingkan sangat jauh bedah dengan jaman sekarang. BBM masih rencana akan dinaikkan, tapi harga garap sawah dan kebutuhan petani naik berkisar 10.000 per barang, untuk bajak per petak. Padahal harga beras justru turun yang awalnya Rp 7700 per kilo menjadi Rp 6000 perkilo. Harga BBM juga tidak jadi naik. Mengapa biaya pertanian naik dan tidak akan Turun. Kalau seperti ini terus bagaimana caranya petani akan makmur seperti jaman BPK SOEHARTO??. Para petanipun sekarang seakan sudah tidak mempan dengan lagunya NIDJI "sang mantan". Para petani cuma milih siapa yang berani bayar lebih tinggi. Bagaimana tidak kalau jadi presiden petani juga tidak ada kemakmuran seperti yang dijanjikan. Kalau sudah dapet duit atau sembako, yah gak mungkin juga akan ditarik kembali. Slogan PEMILU "KLO JANJI BISA DIINGKARI, YANG PENTING JADI DULU, KENYANG BELAKANGAN"

0 komentar: