Selasa, 05 Juni 2012

Tak nampak mentari desaku

Posted by Haf Sari 09.50, under | 9 comments

Ada sebuah pepatah menyebutkan : lebih baik di negeri sendiri walaupun hujan batu dari pada dinegeri orang hujan emas.
Masihkan pepatah itu akan terus berlaku buatku?? 

Santi : bu suru beli LKS oleh bu guru.
Bu mar : Berapa nduk?
Santi : Rp 35.000 bu.
Bu mar : iya, nanti di bayar jika ada rezeki. Kamu ganti baju dan makan dulu, jangan lupa ajak adikmu makan sekalian.

Malam hari di ruang tamu, saat anak-anak tidur.
Bu Mar: Pak Santi tadi pulang sekolah bilang suru beli LKS.
Pak Dar : berapa ?
Bu Mar : Rp 35.000 katanya pak.
Pak Dar : bagaimana ya buk, kemarin sudah hutang pak Haji Rp 350.000 untuk pendaftaran, beli alat tulis, tas dan lainnya untuk Rudi. Belum lagi hutang lainnya bu.
Bu Mar : Iya pak, tidak usah di fikirkan, nanti bapak sakit.
Pak Dar : Apa kita harus jual sawah kita yah bu?
Bu Mar : Duh pak, kalau sawahnya di jual kita mau makan apa? bapak juga kerjanya buruh tani.
Pak Dar : Harus bagaimana lagi toh bu? sawah kita itu memang satu-satunya milik kita. lagi pula biaya bajak sawah, pupuk itu mahal bu. Sawah kita juga sering gagal panen karena hama tikus ataupun penyakit tanaman lainnya.
Bu Mar : Benar kata bapak, tapi apa tidak ada solusi lain selain jual sawah?
Pak Dar : Harus bagaimana? tidak dijualpun, sawah kita akan hilang jika kita tidak mampu bayar hutang. Hasil panen sekarang udah jelas tidak ada, ibu tahu sendiri tanaman padi kita kena penyakit abang.
Bu Mar : iya, kita tidak dapat bantuan bibit, pupuk atau obat-obatan untuk pertanian yah pak? Minggu lalu saat di kantor kepala desa, Pemerintah bagian pertanian katanya memberikan bantuan kepada semua petani gratis pak.
Pak Dar : Saya tahu bu, dan bantuan itu sudah sampai ke desa kita.
Bu Mar : Kenapa Bapak tidak ambil jatah, kitakan juga petani?
Pak Dar : iya kalau kita ini orang yang disegani bu, ambil bantuan gratis. Kita itu siapa? 
Bu Mar : (terdiam_)
Pak Dar : Walaupun barang-barang bantuan dari pemerintah itu dijual lebih renda dari harga semestinya tapi dari mana kita mendapatkan uang?
Hutang lagi?
Bu Mar : ya sudah besok difikirkan lagi caranya, sekarang sudah larut malam.

Pagi hari saat Bu Mar sedang membersihkan halaman.
sinta : Selamat pagi bu Mar
Bu Mar : selamat pagi, eh Sinta. Kapan pulang?
Sinta : Kemarin bu.
Bu Mar : Kamu masih kerja jadi TKI ?
Sinta : Iya bu, masih
Bu Mar : Mampir sini, ibu mau ngobrol-ngobrol sama kamu.
Sinta : ngobrolin apa bu? kalau suru menggosip, tidak mau.
Bu Mar : Tidak.

Bumar dan sintapun mengobrol. Dalam pembicaraan tersebut Sinta bercerita kehidupannya sebagai TKI

Bu Mar : enak juga sepertinya menjadi TKI.
Sinta : ada enaknya dan juga ada tidak enaknya.
Bu Mar : kira-kira jika saya jadi TKI apa masih diterima sin?
Sinta : Masih bu, Asalkan orangnya masih mampu berkerja dan memiliki ketrampilan bisa jadi TKI.
Bu Mar : Keterampilan apa sin?
Sinta tapi keterampilan itu nanti di ajari dulu sebelum berangkat bu. Bu sudah siang, saya mau pulang. Tadi bilangnya cuma sebentar.
Bu mar : Iya Sin, Terima kasih 
Sinta : sama-sama bu.

Malam hari saat di ruang tamu.
Bu Mar : Pak, menyambung pembicaraan kita kemarin.
Pak dar : Iya, ada apa bu?
Bu Mar : bagaimana kalau ibu kerja saja.
Pak Dar : Kerja apa toh bu? kita inikan orang miskin yang tidak memiliki ijasa. Bisanya cuma kesawah dan baca tilis.
Bu Mar : Kerja menjadi TKI.
Pak Dar : Apa bu? apa bapak tidak salah dengar? bagaimana dengan anak-anak nanti jika ibu kerja menjadi TKI?
Bu Mar : Kita sama-sama fikirkan saja pak, Santi kan sudah besar, bisa masak dan mengurus adiknya. Sinta juga pernah bilang mau meneruskan sekolah. Kita dapat uang dari mana? Sementara bapak hutang atau jual sawah saja untuk kehidupan sehari-hari sebelum ibu mendapatkan gaji.
Pak Dar : Ibu mau berangkat dengan siapa?
Bu Mar : Bapak tahu Sinta? dia berkerja sebagai TKI dan tadi aku ketemu dia. Dia bilang mau mengajakku, tapi suru mengures KTP.
Pak Dar : Apa ibu sudah mantap dengan keputusan itu? bagaimana bilang kepada anak-anak?
Bu Mar : ibu saja yang akan bilang sama mereka pelan-pelan, Sinta di sini dua minggu.  Jadi kita punya waktu dua minggu untuk menjelaskan kepada anak-anak dan mengurus KTP. Kesempatan tidak datang dua kali pak.
Pak Dar : ya terserah ibu saja. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Akhirnya dua minggu kemudian Bu Mar berangkat bersama tetangganya Sinta menjadi TKI. Dengan sedih, Bu Mar harus meninggalkan keluarga untuk merantau kenegeri seberang. Saat di  ujung desa Bumar menengok kebelakang, melihat desanya sambil menghela nafas sebagai tanda perpisahan dengan desanya. 

Berminggu-minggu Bumar tidak ada kabar lagi, Pak Dar pun resa. Saat hendak berangkat Bu Mar berjanji sebulan setelah keberangkatan akan memberikan kabar. Pak Dar sudah berkali-kali kerumah Sinta namun Sintapun memang belum pulang lagi. Akhirnya satu tahun setelah keberangkatan Sinta datang dengan membawa uang serta sebuah HP untuk keluarga Bu Mar.

Sinta : ini dari bu Mar. HP itu untuk Santi, biar bisa komunikasi dengan Bu Mar. Nanti saya ajari cara pakainya. dan nomernya sudah saya simpan di situ.
Rudi : Iya kak buruan telfon ibu sekarang.
Sinta : Jangan sekarang, nanti kalau saya sudah balik kesana saya telfon kesini. Kalau kamu yang telfon kesana nanti ibu sedang sibuk kerja.
Pak Dar : memang di sana kerja sebagai apa sin?
Sinta : sebagai PRT pak.
Pak Dar : PRT itu apa?
Sinta : Pembantu rumah tangga.
Pak Dar : kamu pulang, tapi Ibu tidak ikut pulang?
Sinta : Bu Mar masi baru pak jadi belum boleh untuk pulang, nanti jika sudah 2 atau 3  tahun baru boleh pulang.
Pak Dar : kabar ibu di sana baik-baik saja sin?
Sinta : Jangan hawatir pak, bu mar di sana baik-baik saja. Saya mau pulang dulu pak, saya kemari cuma mau memberikan titipan bu Mar saja.
Pak Dar : iya Sin terima kasih ya. Jangan lupa jika udah ada di sana cepat-cepat telfon.
Sinta : iya pak.

Setelah sinta pulang, pak Dar membuka isi amplop tersebut.
Pak Dar : Banyak sekali uangnya. Ini bisa buat beli sawah yang lebih luas dari pada sawah yang kita jual dan bayar uang ujian kamu santi.
Santi : Iya pak, alhamdulillah

Lima tahun telah berlalu dan enam bulan sudah Bu Mar tidak ada kabar. Santi kini sudah lulus dan bekerja di sebuah perusahaan di kota, namun Bu Mar tidak kunjung pulang. Pak Dar dan santi sudah mencari dengan bertanya-tanya kepada pihak yang berwenang, namun tidak ada hasil. Tidak diketahui bagaimana nasib Bu Mar hingga santi menikah. Tahun terakhir saat Sinta pulang dan Pak Dar menanyainya, Sinta berkata bu Mar tiba - tiba pindah kerja jadi tidak tahu lagi keadaannya. Suatu hari dipagi hari seorang tetangga datang kerumah pak dar.
Pak dar : ada apa pak
Pak samin : Kemarin saudara saya telfon katanya melihat bu Mar ada di Jakarta pak.
Pak Dar : Yang benar? (sambil berharap itu kabar benar adanya)
Pak Samin : Benar pak, saya juga memberikan alamat nya ini (sambil memberikan secarik kertas)
Pak Dar : Napain Bu mar di sana?
Pak samin : Kurang jelas pak, saudara saya bilang melihat bu Mar sedang menyiram tanaman.
Pak Dar : Mungkin berkerja disitu.
Pak Samin : Iya, coba saja pak Dar lihat kesana, barangkali Bu mar masih ada disana. Saya pulang dulu pak, saya kemari cuma mau memberikan kabar itu saja.
Pak Dar : Iya pak, terima kasih ya.
Sore harinya pak dar meminta Rudi untuk telfon kakaknya di kota mengenai kabar ini. Santi, kakak rudipun berjanji akan mencari kebenarnnya saat libur kerja bersama rudi dan pak Dar. Dua hari kemudian Santi datang untuk mengajak pak Dar dan Rudi ke Jakarta, ketempat Bu Mar yang katanya berada di Jakarta. Saat di Jakarta, memang benar informasi dari pak Samin, namun wanita tersebut bukanlah Bu Mar. Mereka kembali dengan membawa kekecewaan dan mungkin Bu Mar tak akan pernah kembali untuk menikmati mentari di desa.


Untuk kesamaan cerita atupun nama bukanlah kesengajaan. Cerita ini hanya fiktif dan terinspirasi dari kehidupan beberapa keluarga di daerah saya sendiri dan salah satunya kerabat saya.

9 komentar: