Jumat, 27 April 2012

Keselamatan kerja pengais sampah

Posted by Haf Sari 20.40, under | 9 comments

Ku berjalan menyusuri indahnya kota
bersih nan cerah
tong sampah berjejer seakan tersenyum padaku
berkata aku lebih bersih darimu
menanti sampah yang ku genggam
saat ku menghampirinya
ia berkata jangan sampai salah
Ku berfikir apa yang harus kulakukan
ia berkata kau kering atau basah
akupun tersenyum, memandang sampah ditanganku
aku berfikir ini kering, itu tempatnya
aku kembali berjalan dan menikmati indahnya dunia

oke teman-teman langsung saja pada pokok cerita. Sampah bagi kita adala menjijikan, namun sebagian enggan untuk membuang pada tempatnya. Lihat saja diperkotaan sungainya penuh dengan sampah, coba kalau yang buang sampah disuru memunguti sampah yang telah mereka buang di tengah sungai, pasti tidak mau. Banyak orang memandang sebelah mata pada pekerjaan sebgai pengais sampah. Namun mereka tidak sadar betapa pentingnya mereka bagi kita. Tanpa mereka sampah kita akan terus menggunung dan menggunung.

Waktu subuh telah tiba, pak tukang sampah mendatangi setiap rumah untuk mengambil sampah. Padahal aku belum melakukan apa-apa, ini saja baru selesai sholat subuh, sudah harus buru-buru mengeluarkan sampah dalam kantong kresek hitam. Gerobak pak tukang sampah sudah hampir penuh dengan sampah. Begitu pagi beliau memulai bekerja. Aku memang tidak terbiasa meletakkan sampah diluar rumah, karena tempat sampahnya terbuka, sehingga berserakan oleh tingkah kucing. Pak tukang sampah juga penting bagi kita, walaupun kita harus membayar dan kadang menjengkelkan. Aku kalau buang sampah organik atau rumput, tidak diperbolehkan, padahal kalau aku lihat dalam gerobaknya banyak sampah organiknya, malah bercampur bawur. Ngapain sih ribut sama pak tukang sampah, akhirnya aku memutuskan untuk membakar sampah organik dideket lapangan. Namun saat majikanku berkunjung, beliau malah menegorku, akupun berfikir sebenarnya yang benar mana? Oleh pak tukang sampah, sampah itu dibawah ketempat penampungan sampah. Disanahlah para pengais sampah mengambil sampah yang bisa dijual. Begitu bersemangat sekali mereka melihat sampah yang baru datang. Tanpa memikirkan keselamatan mereka sendiri.

pada postingan yang lalu hal ini yang membuat setengah jiwaku berada ditempat lain. Dalam perjalanan kesebuah tempat, diujung jalan itu terdapat seorang anak kecil. Seorang anak laki-laki sekitar usia masih SMP. Dia begitu bersemangat sekali, memisahkan sampah plastik, botol dan lainnya. Keringat yang menetes tak membuatnya berhenti berkerja membantu orang tuanya. Namun aku sangat terkejut sekali menyaksikannya. Begitu gigih dan bersemangat mengais sampah dengan kedua tangan telanjang. Aku salut namun ngeri, aku ingin menghampirinya dan mengingatkan. Namun aku tidak sanggup melakukannya karena disana banyak orang, pasti aku akan disangka orang setres yang sok tau.

Waktupun terus bergulir dan menandakan aku telah terlambat ketempat yangku tuju. Sambil berjalan dan sesekali ku menoleh padanya, hingga tempat acara aku masih kepikiran terus. Acara dimulai aku sudah tidak konsentrasi lagi.

Akhirnya acarapun usai, aku bergegas kembali ketempat itu, melihat anak itu. Astagfirullah..seakan aku menjerit dalam hati. Tangan mungil pengais sampah harus berlumur darah. Sambil duduk di tepi jalan itu, ia memegangi tangannya yang terluka. Telapak tangannya terbelah oleh pecahan beling. Tangan mungilnya dimasukkan kesebuah gelas air mineral agar darahnya tidak mengalir terus. Kembali lagi aku tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak memiliki kendaraan untuk membawahnya ke rumah sakit. Aku tidak mengenal daerah itu, aku baru pertama kali ke Surabaya dan itupun dituntun lewat sms, uang yang kumilikipun hanya cukup untuk pulang. Namun sudah ada dua orang bapak yang menghampirinya, akhirnya aku melanjutkan perjalananku.

Betapa pentingnya peran seorang pengais sampah bagi penduduk perkotaan, tanpa mereka rumah mereka akan tetap kotor. Tanpa pengais sampah, sampah-sampah penduduk kota akan tetap bercampur bawur dan tak ada gunanya. Tanpa pengais sampah, maka sampah-sampah itu akan tetap menjadi gunung sampah yang setiap hari akan semakin tinggi dan tinggi. Namun sayang sekali tak ada yang peduli akan pekerjaannya. Pengais sampah bagiku lebih mulia dari pada pengemis dijalanan. Mereka rela berpanas-panasan dengan bauh busuk yang menyengat dari sampah yang mereka bawa. Tak sadarkah kalian penduduk kota bahwa pengais sampah adalah penolong kalian.

Adakah kepedulian kalian penduduk kota kepada para pengais sampah. cobala untuk lebih peduli kepada seseorang yang telah menolong kalian dari sedikit masalah harian. Mungkin kalian berfikir, kalian sudah membayar setiap bulannya untuk membuang sampah. Namun kembali lagi, kalian tidak pernah berfikir jika sampah kalian akan semakin banyak tak terkendali tanpa pengais sampah. Walaupun tidak memberikan mereka gaji, paling tidak berikanlah alat keamanan berkerja kepada mereka. Mungkin bagi seorang pengais sampah, uang untuk membeli sarung tangan yang lebih tebal sangat besar. Namun untuk yang berpenghasilan tetap itu bukanlah jumlah yang terlalu besar. Paling tidak untuk pemkot sebulan sekali memberikan sarung tangan yang lebih tebal dan masker. atau plus sembako. Sejumlah dana yang disisihkan dari uang belanja pemerintah kota untuk para pengais sampah.

9 komentar: