Selasa, 31 Januari 2012

Petani gagal panen, jual sawah

Posted by Haf Sari 20.35, under | 2 comments

Musim hujan telah datang sejak sebulan yang lalu. Sebuah musim yang sebenarnya di tunggu oleh para petani agar sawahnya tidak kekurangan air. Namun Musibah terjadi. Dengan datangnya musim hujan membuat tanaman padi kelebihan kadar air sehingga rusak karena hama. Yang paling parah dan membuat petani tidak mendapatkan hasil sedikitpun dari yang mereka tanam adalah penyakit abang. Penyakit tanaman padi ini sangat ganas dan merambah dengan cepat. Sehingga jika beberapa batang padi mulai menguning sebelum berbuah atau sekitar usia tanaman padi 1,5 bulan maka akan merambah kesemua tanaman padi disekitarnya. coba lihat gambar di bawah ini. Ini bukanlah tanaman bunga namun tanaman padi yang sudah menguning dan mati sebelum berbuah.

Mengapa tidak, petani menjual sawah mereka untuk memenuhi kebutuhannya. Mungkin tidak difikirkan oleh mereka, setelah menjual sawah, apa yang akan terjadi pada jangka panjang. Pengangguran, akan semakin besar jumlahnya bukan karena pertumbuhan penduduk namun berkurangnya lapangan pekerjaan. Sebenarnya ini keprihatinan bagi pemerintah yang tidak dapat menanggulagi terjadinya kerugian petani. Petani memiliki andil terbesar sebagai penghasil bahan makanan. Mungkin sekarang masih bisa impor beras dari luar negeri dengan harga lebih murah. Tapi apakah beberapa tahun kedepan, setelah di Indonesia sudah tidak ada petani dan tidak ada persawahan. Negara-negara itu masih akan menjual dengan harga murah kepada negara kita??

Aku selalu berdo'a agar sawah milik nenekku tidak dijual. Selama ini aku selalu berusaha berkerja keras unuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk diriku dan nenekku walaupun dengan sangat sederhana. Aku berharap orang tua serta nenekku tidak memiliki sedikitpun pikiran untuk menjual sawahnya. Sejak beberapa hari lalu ada seseorang yang telah memberikan iming-iming uang, namun aku selalu berharap tanah itu masih milik kita. Betapa tidak menghargai kerja keras nenek moyang jika tanah itu terjual kepada keturunan bukan orang jawa. 

Mungkin semua sudah mengetahui, jaman dahulu nenek moyang kita berkerja keras dengan segala sesuatu yang dimiliki. berjalan kaki berjam-jam hanya untuk mencari penghidupan. Dulu nenek moyang kita berjalan dini hari kehutan mencari rebung, pagi harinya berjalan kepasar untuk menjualnya. Dulu wanita setelah subuh keluar rumah ke sawah dan pekarangan untuk mencari daun dan berjalan kaki ke pasar untuk menjualnya. Tahukah kalian apa yang mereka lakukan di pagi hari sebelum sarapan, mereka selalu berfikir harus berkerja dulu sebelum makan. Padahal sawah mereka luas dan subur. Mereka tidak mau memanjakan dirinya sendiri karena mereka memiliki prinsip "jika awalnya senang maka akhirnya akan sengsara begitu sebaliknya". Mereka melakukan itu hanya untuk ditukar dengan garam atau ikan asin. Nasi yang dimakanpun bukan nasi putih namun nasi jagung, nasi karak dan nasi campur ketela pohon. Sadarkah bahwa mereka rela hidup lebih dari sederhana bahkan dibilang miskin, untuk anak cucunya hidup sejahtera dengan peninggalan sawah mereka.

jaman telah berubah, lihat saja sekarang banyak persawahan yang di jual kepada orang asing. Hasil penjualan itu mereka gunakan untuk membeli motor agar tidak capek berjalan, membangun rumah bertingkat bahkan berfoya. Betapa tidak semakin merintih ibu pertiwi melihat anak cucunya tinggal dikolong jembatan, sedangkan bumi pertiwi menjadi berjayanya orang asing. Betapa tidak marah Ibu pertiwi, melihat anak cucunya tergiur kemewahan hingga menjadi terjerumus pergaulan bebas. Betapa tidak semakin sakit hati Ibu pertiwi yang melihat anak cucunya menjadi budak di tanah air nya sendiri.

2 komentar: