Rabu, 18 Juli 2012

Tari Remo Anak, Curi budaya

Posted by Haf Sari 09.00, under , | 21 comments





Sejarah Tari Remo
Tari remo sebenarnya merupakan sebuah tari yang di gunakan sebagai penghantar ludruk. Dalam pertunjukan Ludruk, sebelum dimulai akan di buka dengan tari Remo. Tari remo aslinya berasal dari Malang yang kemudian menjadi tarian khas Jawa timuran. Tari remo melambangkan perjuangan seorang pangeran di medan perang. Sesuai dengan perkembangannya tarian ini banyak di mainkan saat ada vestival, acara kenegaraan, menyambut tamu agung, pentas seni ataupun acara lawatan desa. Sebuah tari yang melambangkan keperkasaan seorang pangeran pada perkembangannya lebih banyak di mainkan oleh seorang perempuan, sehingga sedikit ada perubahan baik itu pakaian ataupun gerakan.

Gatot kaca, merupakan tokoh pewayangan yang gaya dalam berperang paling mirip dengan gerakan tari remo, termasuk mengangkat kaki sebelah dan memakai selendang. Gatot kaca merupkan pangeran Pringgondani yang memiliki tulang besi, otot kawat sebagai pelambang kekuatannya. Dalam perkembangan tari ini mulai tenggelam beriring dengan tenggelamnya pertunjukan ludruk. Gaya gerakan mengangkat kaki dengan menggerakan pergelangan tumit merupakan gaya khas sehingga lonceng di kaki berbunyh. Gaya busana Tari remo terdiri dari tiga macam yaitu Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan Jombangan namun sekarang muncul dengan gaya perempuan, karena sekarang lebih banyak perempuan yang menarikannya.

Berdasarkan keterangan di wikipedia bahwa perbedaan gaya busana penari remo sebagai berikut.
  • Busana gaya Surabayan Terdiri atas ikat kepala merah, baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18, celana sebatas pertengahan betis yang dikait dengan jarum emas, sarung batik Pesisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta keris menyelip di belakang. Penari memakai dua selendang, yang mana satu dipakai di pinggang dan yang lain disematkan di bahu.
  • Busana Gaya Sawunggaling  Pada dasarnya busana yang dipakai sama dengan gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni penggunaan kaus putih berlengan panjang sebagai ganti dari baju hitam kerajaan
  •  Busana gaya Malangan Busana gaya Malangan pada dasarnya juga sama dengan busana gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni pada celananya yang panjang hingga menyentuh mata kaki serta tidak disemat dengan jarum
  •  Busana Gaya Jombangan Busana gaya Jombangan pada dasarnya sama dengan gaya Sawunggaling, namun perbedaannya adalah penari tidak menggunakan kaus tetapi menggunakan rompi.
  •  Busana Remo Putri Remo Putri mempunyai busana yang berbeda dengan gaya remo yang asli. Penari memakai sanggul, memakai mekak hitam untuk menutup bagian dada, memakai rapak untuk menutup bagian pinggang sampai ke lutut, serta hanya menggunakan satu selendang saja yang disemat di bahu bahu.
Sebuah tari Remo yang di iringi oleh musik gamelan terdiri dari  bonang barung/babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Adapun jenis irama yang sering dibawakan untuk mengiringi Tari Remo adalah Jula-Juli dan Tropongan, namun dapat pula berupa gending Walangkekek, Gedok Rancak, Krucilan atau gending-gending kreasi baru. Sesuai perkembangannya tari remo lebih banyak di iringi musik dari gamelan yang di putar dari sebua CD atau DVD. Hal ini membuat sebuah alat musik Khas Jawa ini semakin memudar. Saat saya ke madura menghadiri Blogilicious Madura di perbatasan tanjung perak terdapat patung panglima perang dan di sebelahnya merupakan patung GONG. Gong merupakan simbol perdamaian, di pasang di perbatasan madura dan surabaya yaitu di tanjung perak sebagai lambang perdamaian Jawa Timur.

Kembali lagi pada Tari remo, dengan berjalannya waktu tari-tari tradisional mulai tergeser dengan tarian budaya luar sehingga jarang sekali di mainkan. Kelengahan warga bangsa Indonesia ini kemudian di manfaatkan oleh negera lain dengan klaim warisan budaya Indonesia sebagai budaya mereka. Hal ini yang menjadi keprihatinan, namun dengan adanya hal ini mata Indonesia menjadi melek akan Budaya. Setelah beberapa kebudayaan di klaim warna asing, maka Indonesia gencar membudayakan kembali warisan budaya yang telah lama tenggelam. Dimana-mana gencar di suarakan kata "Jangan Curi Budaya Kita" dan di iringi dengan penataan kembali budaya. seperti halnya yang di lakukan kota Malang, membuat film dokumenter "Malang Tempo Dolo, Malang kembali". 

Untuk menghindari kepunahan budaya, sekarang budaya seperti tari dan lainnya sudah mulai di ajarkan di sekolah-sekolah. Seperti halnya di sekolah desaku yaitu Desa Ketan Ireng kecamatan Prigen ini, saat pentas seni kelulusan menampilkan Tari Remo yang di bawahkan oleh adik-adik kelas 4. Jika pengenalanm budaya sejak anak-anak, maka generasi penerus bangsa Indonesia akan kehilangannya. Justru inilah yang menjedi keprihatinan kedepannya, jika anak-anak tidak mengetahui tari ataupun budaya daerahnya, melainkan yang diketahuinya adalah tari bride dance, boy band, girl band dan lainnya yang sesungguhnya bukan budaya kita. 

Dengan adanya kejadian-kejadian pengkaliman kebudayaan di harapkan warga Indonesia semakin peduli akan Budayanya sendiri. Jika bukan kita, siapa lagi. Coba saja cari di pencarian google mengenai musik jula-juli, gendingan, remo. yang membuat saya sedih dan prihatin adalah saat nenek saya meminta untuk mencarikan gendingan jula-juli namun tidak ada. Dalam pencarian justru muncul jula-juli namun isinya campuran dengan lagu hip hop koplo. Wew cukup terkejut, yang awalnya nenek saya menikmati lagunya, tapi beberapa saat kemudian berubah menjadi musik keras. Ini patut di pertanyakan, jika kita memang tidak mau budaya kita di curi maka lindungilah. Ayo arek-arek Jawa Timur yang punya lagu gendingan, jula-juli dan sejenisnya murni, upload MP3nya di Internet, agar nenek saya bisa nostalgia dan yang paling penting generasi kita bisa mengenalnya sebagai musik warisan budaya Indonesia.

JANGAN CURI BUDAYA KITA
               Lebih Tepat Jika
                          AYO LINDUNGI DAN LESTARIKAN BUDAYA KITA

21 komentar: